Terlalu lama ku berada di zona abu-abu
terlalu lama ku larut dalam kegelisahan.
Kadang ku sadar semua yang kulakukan
hingga semua tak lagi perduli, bosan, muak
lewat lensa warna-warni bertemankan resistor

Gelombang longitudinal tua kadang menghampiri,
Merusak senyum di pagi hari,
Merusak tenang saat sepi.

Ah… tapi apa guna itu semua?
Saat ku menangis tentang cinta, banyak di luar sana yang menangisi perut mereka, menangisi hilangnya keluarga mereka.
Saat ku gelisah tentang cinta, banyak di luar sana yang gelisah di mana tempat mereka berteduh dari isya hingga subuh menjelang nanti, gelisah mengetahui masa depan mereka hanya berhiaskan sampah plastik.

Sia-sia, detik dan menit kan terbuang percuma begitu saja melewati panas dan dinginnya haru.
Ini bukan wacana, tapi fakta yang terpampang di depan kornea.
Ini bukan berita basi, tapi kenyataan tiap hari yang kita lewati.

Baru tadi kulihat seorang anak bermain riang,
dengan topi biru dan sweater kecilnya yang hangat menyelimuti badan mungil mereka, lalu berkata ‘papa’ kepada ayahnya yang berada di sampingnya.

Sedang, seorang anak beratapkan balok beton yang tua berjuang menghadapi malam berselimutkan angin dan topi mereka hanya lampu jalan yang berbinar oranye, dengan memanggil ‘papa’ diikuti tetesan air mata untuk mencari kehangatan itu.

Aku sudah lama lupa semua itu, kini ku teringat lagi.
Mencoba kembali perduli terhadap sesama.
Berusaha mencintai kosa kata-kosa kata yang hilang dalam angan-angan, sayangi orang lain seperti diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s