Tlah lewat minggu demi minggu sejak kutahu akan hal itu,
yang sempat menjadi pergolakan batin,
sekedar shock therapy dalam hidup ini,
Tersadar akan satu hal, dua hal dan beberapa hal akan suatu perubahan.

Debu-debu malam itu terhempas dalam heningnya waktu,
ketika s’mua terlelap.
Sedang aku sendiri menerjang kenyataan pedih,
ketika fiksi bukan lagi hiburan,
ketika komentar-komentar itu terhunus jelas di depan mata,
terbelalak, terhempas asa.

Tak perlu lensa kamera untuk menangkap kenyataanmu,
bahkan seribu jurnalis pun kan terkejut melihatku bekerja,
mengungkap kebenaran kata demi kata.

Malam itu warna hilang dalam kamusku,
komposisinya serasa bertaut dalam asap tengah malam.

Keputusan hati ini tak bisa diperdebatkan para petinggi-petinggi dunia,
tidak bisa dijadikan wacana dalam konferensi terbuka.
karena keputusan cinta bukan kesimpulan sejenak semata,
bukan pemanis dalam bibir kering, tapi suatu konsistensi
terhadap pernyataan sanubari.

Arah hatiku tak dapat dijelaskan dengan aljabar vektor,
hanya mendekap dalam dinding-dinding gips berwajah usang
yang menemani para penanti kesucian cinta.

Kelak jika tiba waktu, dan mentari bersinar pada puncaknya,
aku kan terbang,
gunung-gunung kan menyingkir melihatku melaju,
menembus awan, kumpulan pelikan terbang kan jadi sahabatku,
melewati batas.

Aku pun bukan mengadu, aku hanya terpadu dalam kata-kata,
tersenyap dalam rangkaian kata,
berharap metafora ini dapat mewakilkan rasa hati ini.

riant_raafi
14 Maret ’09_15.03

One thought on “Kan Lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s