Assalamu’alaikum wr. wb.

Dalam hidup ber-sosial masyarakat dengan orang lain, kita sebagai elemen dari masyarakat tersebut pastinya mempunyai kewajiban dan tugas masing-masing, terlebih lagi ketika kita menjadi seorang tokoh atau seseorang yang menjadi tempat rujukan untuk bertindak. Tindakan apapun yang kita lakukan bisa menjadi refleksi diri kita sendiri, sebagai teks jelas perilaku hidup kita baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Namun terkadang kita mengacuhkan hal-hal tersebut, hal dasar yang menjadi seorang yang menjadi panutan orang lain untuk bertindak.

“Sudah berapakah perilaku ‘pantas’ yang kita lakukan sehingga menghilangkan kemunafikan kita dalam bernasihat?”

Mungkin itu pertanyaan yang sulit dijawab bagi sebagian orang, bagi pemimpin-pemimpin yang lebih banyak berkata-kata daripada bertindak. Masyarakat telah jenuh terhadap ‘parodi-parodi’ pemerintahan yang terpapar di layar kaca bak sinetron ‘stripping’ yang memang ‘asyik’ bagi sebagian ibu-ibu rumah tangga. Seseorang lebih sering memikirkan apa yang keluar dari mulutnya daripada apa yang keluar dari tindakannya, sehingga di negri ini lebih banyak orang-orang yang berkata bagus dari pada bertindakan bagus.

Mari kita lihat pemimpin terdahulu, Abu Bakar as-siddiq. Ia adalah seorang pemimpin yang sangat disegani oleh masyarakatnya, karena apa? Bukan karena kata-katanya yang bagus serta indah untuk dinikmati, tapi karena tindakannya yang hebat dalam segala kondisi. Kebiasaan berjalannya di malam hari yang melegenda, sekedar untuk memeriksa kondisi rakyatnya apakah ada yang masih kelaparan. Cerita itu masih terngiang jelas di genderang telinga kita, orang yang menceritakan pun kadang masih teringat di kepala kita.

Berkata-kata indah yang memotivasi orang lain bukanlah hal yang salah, malah perlu dalam sebuah hubungan, baik itu hubungan sosial, persahabatan, organisasi, dan banyak contoh lainnya. Namun hal itu menjadi salah ketika tidak ada sinergisitas antara apa yang kita ucapkan dengan apa-apa tindakan yang kita lakukan. Lebih baik menjadi orang yang bertindak dahulu, baru berkata-kata kemudian.

“Allah murka kepada orang-orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya”

Mari kita review tindakan kita, temukanlah apakah ada sinergisitas antara apa yang kita ucapkan dengan yang kita lakukan. Temukanlah walau cuma ada sedikit, jika yang sedikit itu ketemu maka kita masih kurang dalam bertindak daripada berkata-kata maka bersegeralah beristighfar dan mengintrospeksi diri kita yang khilaf ini. Namun jika kita tidak menemukan sama sekali sinergi antara perkataan dan perbuatan kita, berarti kita termasuk orang-orang yang dimurkai Allah.

Maka dari itu, jadilah “tangan” yang bersih sebelum mencuci “piring-piring” yang kotor, karena tidak mungkin mencuci piring kotor dengan tangan yang kadung kotor. Artinya perbaikilah diri sendiri, sehingga ketika kita ingin memperbaiki orang lain efeknya akan lebih “terasa”.

Wallahualam bishawab…
Wassalam.

3 thoughts on “Cuci Tanganmu Dulu, Baru Cuci Piringmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s