Ketika Idealisme Mati ditengah Kerumunan Sikap

Sejatinya setiap individu pasti memiliki sikap yang berbeda dengan orang lain, meski ia berada dalam suatu komunitas. Walaupun penyamaan sikap dari satu individu terhadap lingkungannya perlu dilakukan untuk adaptasi dengan lingkungannya masing-masing (misalkan dalam suatu komunitas atau sosial masyarakat), tidak dapat dipungkiri ada hal-hal yang akan tetap “hidup” dalam diri mereka masing-masing. Hal yang “hidup” itu adalah suatu hal hakiki yang dimiliki setiap mahkluk hidup diseluruh hamparan muka bumi ini. Yaitu hal untuk bisa bersikap IDEAL.

Kata “Ideal” sudah setiap hari kita dengar di dalam kehidupan bersosial, interaksi, dan harapan sikap terhadap diri kita masing-masing. Dalam tata bahasa, kata ideal berarti
“…sangat sesuai dengan yang dicita-citakan atau diangan-angankan atau dikehendaki : ….” (dikutip dari kamusbahasaindonesia.org).
Yang intinya kata tersebut mendefinisikan sesuatu yang sudah hakikatnya terjadi atau sesuatu yang sesuai dengan keadaan yang ada. Namun apakah arti kata ini diartikan sama dizaman ini? Kita akan coba melanjutkan ke kata “Idealisme”, menurut kamus bahasa Indonesia (kamusbahasaindonesia.org) arti dari kata idealisme adalah,
“… (2) hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap smpurna…”.

Nah, dari sini terurai lebih jelas bahwa idealisme adalah suatu sikap yang memang sempurna dan cocok dengan kehidupan yang telah berjalan. Tetapi yang sering terdengar ketika seseorang melihat, mendengar, dan berbicara tentang idealisme respon yang muncul adalah rasa ngeri, takut, bahkan tidak jarang yang menganggapnya hal itu hanyalah pepesan kosong “orang-orang dulu” yang belum hidup di zaman sekarang ini. Maka tidak heran sampai-sampai ada anekdot seperti ini “…cari makanan haram saja susah, apalagi yang halal?…”. Padahal mereka tidak tahu, cari makanan yang haram yaa susahnya nanti (baca:akhirat).

Sekarang ini memang masih banyak, atau paling tidak masih terbilang “ada” orang-orang idealis di Indonesia dan di dunia. Mereka-mereka yang senantiasa bekerja, berfikir, beraksi demi sebuah tegaknya keadilan di muka bumi ini, atau paling tidak di Indonesia ini. Dan saya PERCAYA ITU. Tetapi seringkali orang-orang seperti inilah yang bernasib “buruk”, atau lebih tepatnya “diperburuk”. Oleh siapa? Tentunya oleh mereka-mereka yang tidak suka kebenaran muncul ke permukaan, karena mungkin saja bisa merugikan mereka diberbagai hal. Contohnya Mr. Clean, atau istilah bagi orang-orang “bersih” di pemerintahan, pasti mereka menjadi sasaran orang-orang yang tidak sepaham dengannya, entah bagaimana tiba-tiba si Mr. Clean ini tersandung masalah korupsi dan lain-lain.

Atau satu lagi, miris ketika melihat orang-orang yang idealis dahulu saat mahasiswa, namun terpaksa “diam” ketika menjabat di kursi pemerintahan. Banyak yang beralasan karena didalamnya pun nilai-nilai idealisme jarang/tidak diperhatikan serta diterapkan. Mungkin inilah yang dapat disebut “Idelisme yang mati dikerumunan sikap”, sikap apa? Sikap yang tidak berpihak kepada kebenaran. Idealisme yang dahulu diperjuangkan sedemikian rupa, seketika hal itu buyar, terburai, tumpah-ruah dihadapan rekan-rekan seperjuangannya. Padahal zaman dahulu, ketika para sahabat menjadi pengatur pemerintahan siapa yang tidak akrab dengan kebijakannya yang menentang kedzaliman dan ketidakadilan. Atau tidak usah jauh-jauh, bagaimana dahulu mahasiswa memperjuangkan ke-idelisme-an mereka ditengah tawaran-tawaran politik dari pihak penjajah, dan mungkin masih banyak lagi contoh yang dahulu telah dicontohkan pejuang-pejuang kita. Hal ini merupakan sebuah bentuk degradasi moral masyarakat kita kali ini.


|“Idealisme yang dahulu diperjuangkan sedemikian rupa, seketika hal itu buyar, terburai |
| tumpah ruah dihadapan rekan-rekan seperjuangannya.” |

Sebenarnya kalau kita merujuk kembali pada arti kata “ideal” dan “idealisme”, berarti orang-orang yang tidak menyukai suatu hal yang berkaitan dengan “idealisme” adalah orang-orang yang tidak ingin hidup sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh orang banyak, sehingga membuat orang tersebut dikatakan “tidak berguna” bagi orang banyak (na’udzubillahi min dzalik).

Intinya peganglah idealisme yang telah anda yakini dan anda yakini itu benar, pertahankanlah, perkuatlah dasar-dasar dari idealisme itu sehingga Insya Allah kita bisa,
“… (2) hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna…”.(kamusbahasaindonesia.org)

Wallahu’alam bishawab.

0.43

10 thoughts on “Ketika Idealisme Mati ditengah Kerumunan Sikap

    1. @MajalahMasjidKita: Benar itu,,,yaa namanya dipemerintahan, politik dll.
      Mungkin karena belum pernah nyoba nih, yaa doakan saja Idealisme yang benar bisa tetap dipertahankan.

      trim’s untuk BlogWalkingnya y kang…

      Like

  1. benar apa dituliskan di atas. idealisme yang mati di tengah kerumunan. tepatnya idealisme yang dikepung dan dipenjara oleh paham baru yang banyak dianut oleh budak2 materi di kursi pemerintahan, yaitu hedonis dan materialisme. thanks artikelnya menarik, nambah wawasan buat sy yang sedang mempertahankan idealisme di tengah perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat yang kian gak karuan.🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s