Akhir-akhir ini tidak tahu mengapa saya selalu merasa sedikit sendu, apa karena ini adalah masa-masa terakhirku di kampus tercinta Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), atau memang semua tugas akademik ditambah kebingungan akan kemana nanti akan dituju. Karena memang disinilah saya menemukan semua hal-hal yang unik, ngangenin, dan segala perjuangan masa muda yang saya rasa tidak akan ditemukan di tempat-tempat lain setelah pergi dari sini.

Dan sangat terasa sekali semua hal ini mendominasi tidak beberapa lama ini, saya rasa ini yang disebut suasana hati. Tapi apa itu semua bisa dikontrol? Mungkin alat pengontrol itu yang disebut persepsi. Biarkan tulisan kali ini dibuka dengan sebuah kata “persepsi”, sebuah kata benda yang kadang terasa sangat nyata namun dilain waktu bagai asap kabut tak bertuan. Persepsi inilah bisa membolak-balikkan susasana hati kita, bukankah begitu? Jika persepsi kita terhadap sesuatu baik, suasana hati kita akan menjadi nyaman, begitu juga sebaliknya.

“…. progress kehidupan, sebuah proses yang sudah sepatutnya terus melaju menembus hambatan waktu.”

 

Persepsi sangatlah bisa kita kontrol, karena pengaturan persepsi terjadi saat kita berada di alam sadar kita. Dan pengontrolan persepsi berkaitan dengan kejernihan pikiran serta kebeningan hati, itu semua akan berjalan dengan baik apabila kedua aspek itu bekerja sama dengan serasi.  Kadang kita salah mengartikan bahwa baik-buruknya persepsi kita berasal dari suasana hati kita, padahal semua itu terjadi sebaliknya.

Yang tidak kita sadari adalah bahwa persepsi di dalam diri kita selalu kita biarkan berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, bagai perahu kertas di atas sungai tak berujung. Padahal jika persepsi kita dapat diatur dan berjalan sesuai arah yang kita inginkan, maka hal itu dapat menjadi kekuatan yang tak terkalahkan oleh faktor eksternal. Persepsi tidak bertuan inilah yang menyebabkan suasana hati kita berubah-ubah, bukan faktor udara, iklim ataupun pengalaman buruk.

Mulai berlatih mengendalikan persepsi, agar suasana hati kita dapat menjadi yang kita inginkan bisa menjadi awal untuk perubahan diri. Perubahan menjadi pribadi yang terkontrol, tidak mudah terpengaruh serta berpendirian teguh. Dan kalimat terakhir dari saya adalah, “Mari Bicara Tentang Persepsi”, mari mengungkap rahasia pengontrol diri yang telah lama terpendam.

Semua yang telah dibahas diatas bisa menjadi jalan keluar yang saya alami selama ini. Ya mungkin semua rasa sendu dalam diriku bisa dirubah dengan persepsi yang lebih baik terhadap sebuah progress kehidupan, sebuah proses yang sudah sepatutnya terus melaju menembus hambatan waktu.

Best Regards,

sangterasing

image source: 1, 2

6 thoughts on “Mari Bicara Tentang Persepsi

  1. persepsi bisa dikatakan asumsi akan sebuah nilai, sebuah peristiwa, sebuah pemahaman, dan sebuah apapun itu yang hadir dalam ruang-ruang pemikiran kita ketika mencoba memahami sesuatu hal,,,,,

    seperti halnya ide, persepsi adalah juga anak dari sebuah pemikiran. uniknya, dari sebuah ide terlahir persepsi atau dari sebuah persepsi maka terlahirlah sebuah ide. bahkan terkadang bias tentang definisi ide dan persepsi. namun semua berinduk pada “PEMIKIRAN”.

    persepsi lah yang membuat hari ini kita mengenal darwinisme, komunisme, marxisme, yudaisme, Islam liberal, islam radikal, islam moderat, islam konservatif, atau bahkan islam haroki dan isme-isme yang lain. Persepsilah yang membuat feminisme tumbuh sebagai bahan kajian wajib perempuan dunia hari ini….

    persepsi terbentuk tergantung pada status pendidikan , usia, kematangan hidup, pengalaman, ideologi, fikrah, atau apapun yang membentuk kepribadian dan pola berpikir seseorang dalam rentang waktu yang cukup panjang….

    ruang-ruang kemungkinan sebuah persepsi begitu luas seluas daya jangkau pemikiran manusia dalam memahami nilai-nilai yang terjadi di sekitarnya keluasan ruang ini pula maka persepsi adalah sumber dari segala potensi konflik yang ada di kehidupan…

    dari persepsi seseorang menyimpulkan sesuatu lalu ia berpendapat dan ketika keegoisan akan akal melanda maka ia akan membenarkan persepsinya dengan segala cara….

    maka sejauh mana persepsi akan membawa kita melangkah??
    cukuplah kita yang tahu akan keluasan ruang langkah yang dilahirkan persepsi kita dengan segala kelemahan dan keterbatasan sumber informasi pembentuk sebuah persepsi….

    best regards,
    sederhana namun nyata
    Gempar Dwi Pambudi
    gempar.dp@blogspot.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s