Bijak bukan berarti mengalah, tetapi mengalah adalah proses menjadi bijak

Setiap orang mempunyai sifat dan karakter masing-masing, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang dibawa sejak lahir. Karakter dan sifat yang berbeda akan melahirkan sikap yang berbeda pula, baik itu sikap terhadap sesama mahluk sosial maupun sikap terhadap situasi dan kondisi. Namun bukan berarti sebuah sikap tidak dapat dilatih menjadi seperti yang diinginkan, dan melatihnya memerlukan keterbukaan mindset dari diri sebuah individu.

Salah satu sikap yang akan dibahas kali ini adalah sikap bijak. Seperti yang saya katakan sebelumnya, sebuah sikap bisa saja dilatih menjadi apa yang kita inginkan. Melatihnya serta membangunnya akan melewati berbagai proses yang bisa saja menyulitkan, atau bahkan menimbulkan pengalaman yang mengesankan.

            Saya teringat beberapa waktu yang lalu kedua teman saya terlibat pertengkaran yang cukup hebat, bahkan membuat teman-teman yang lain khawatir dengan keberlangsungan persahabatan mereka dan kami. Alhasil emosi sesaat itu hanya dapat diselesaikan dengan menjauhkan kedua teman saya yang bertikai tersebut, yang pada akhirnya Alhamdulillah mereka berbaikan juga.

Saya pun akhirnya berpikir, mengapa salah satu teman saya itu tidak bersikap bijak saat emosi dari salah satu teman saya yang lain tiba-tiba naik. Mengapa salah satu dari mereka tidak mengalah saja dan menyudahi pertengkaran mereka, tetapi malah saling meninggi satu sama lain. Dan bahkan salah satu dari mereka ada yang sudah meminta maaf, namun tiba-tiba berubah sikap saat yang satunya lagi tidak sudi menerima permintaan maafnya. Hmmm… ternyata memang benar, menerima maaf lebih sulit daripada meminta maaf.

Memang bersikap bijak, arif, atau yang lainnya bukan berarti kita mengalah pada suatu keadaan, bahkan mengalah dengan alasan yang tidak tepat akan berpotensi mengurangi keberanian kita dalam mengambil sebuah sikap (tidak tegas). Tetapi sikap mengalah adalah sebuah proses untuk menjadi seseorang yang bijak, tentunya mengalah dengan alasan yang tepat karena dalam menentukan sikap diperlukan adanya ketepatan analisa bagaimana memposisikan sikap tersebut disaat yang tepat, seperti halnya mengalah pada kasus teman saya yang telah dibahas sebelumnya.

 ***

“…mengalah dengan alasan yang tidak tepat akan berpotensi mengurangi keberanian kita dalam mengambil sebuah sikap (tidak tegas). Tetapi sikap mengalah adalah sebuah proses untuk menjadi seseorang yang bijak, tentunya mengalah dengan alasan yang tepat…”

 ***

            Mengambil sebuah sikap adalah hal yang sulit, apalagi jika anda diposisikan sebagai orang yang ditunggu-tunggu keputusannya. Maka diperlukan kebijaksanaan yang mendasari keputusan anda, dan mengalah bisa jadi salah satu sikap yang bijak saat itu. Dan jikalau sikap mengalah itu menghasilkan dampak/ hasil yang buruk, maka kita sedang mem-’proses’ diri kita menuju kebijaksanaan pribadi.

best regards,

sangterasing

 

image source: 1, 2

12 thoughts on “Bijak bukan berarti mengalah, tetapi mengalah adalah proses menjadi bijak

  1. “Dan jikalau sikap mengalah itu menghasilkan dampak/ hasil yang buruk, maka kita sedang mem-’proses’ diri kita menuju kebijaksanaan pribadi”

    bijak dalam menyikapi efek dari kesalahan mengambil keputusan untuk mengalah maksudnya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s