Malam itu kami berlima duduk berhimpitan…

Malam itu kami berlima duduk berhimpitan, jumlahnya minus 1 orang. Jarang sekali hal itu tejadi karena biasanya kami sibuk dengan laptop kami masing-masing. Biasanya ada yang memutar lagu nasyid, ada yang mengerjakan tugas, ada pula yang asyik online ngecek status teman kuliahnya atau bertwitter-ria. Namun malam itu berbeda, kami berlima terasa dekat sekali. Salah satu temanku memutar film dari laptopnya sebagai awal dari kedekatan kami malam itu, film berjudul sanctum. Aku sadar tidak semuanya tertarik dengan film itu, namun aku mencoba menyukai tiap detik dimalam itu, begitu juga temanku yang lainnya, walau ada salah satu teman memang tidak berminat menonton dan ia ditemani laptopnya namun tetap berdekatan.

Itulah malam terakhir kami bersama-sama dikontrakan tercinta, karena sudah setahun kami bersama dan akhirnya masa terakhir kami disini telah habis. Inilah kontrakan para pejuang, para pemimpi yang berniat membangun sebuah peradaban dengan berawal dari diri sendiri, dari segelintir iman yang diikhlaskan hanya kepadaNya.

Aku malam itu memperhatikan dan baru menyadari, ketika kami baru pindah ke sini semuanya terasa begitu berantakan. Aku juga merasakannya, kadang rasa kesal menghampiri ketika ada rasa ketidakadilan dalam mengerjakan pekerjaan bersih-bersih rumah. Namun tidak jarang diriku mendapatkan nikmatnya ukhuwah ketika ada salah satu teman yang mentraktir makanan, kita pun makan bersama-sama. Nikmat mengingatkan ketika diriku yang awalnya sulit bangun disubuh hari, dibangunkan oleh temanku dan terkadang membangunkan sebelum subuh untuk mengajakku sejenak Qiyamul Lail. Walau kusadari keegoisan memang melanda tiap individu, tentang makan malam yang dibelinya, atau masakan yang dimasak hanya untuknya, namun itu semua menjadi sebuah pendewasaan diri tentang yang namanya toleransi.

Belum lagi saat temanku sakit dan yang lainnya seraya membantu tanpa pamrih, mengantar temannya ke apotek, menyiapkannya teh hangat, atau hanya sekedar menemaninya saat malam bergulir menjadi pagi. Kuhitung ternyata semua temanku telah mengalami sakit dikontrakan ini, berarti semuanya telah mendapatkan nikmat kebersamaan dari teman lainnya. Pernah diriku meriang ketika baru beberapa minggu pindah, mendadak diriku panas dan kutahu bahwa itu semua adalah gejala tipes (tifus). Aku masih ingat air kompresan yang disiapkan temanku, tak lupa ia mengompres seraya memerasnya.

Canda-canda garing yang hanya dimengerti oleh kami, jebloknya kasur karena kayu yang menahannya lepas selalu membuat kami tertawa. Ledek-ledekan kecil kepada temanku, julukan-julukan yang mudah-mudahan tidak menyakiti hati masing-masing, sekedar menambah bumbu ukhuwah kami. Itu semua tidak kudapati ditempat lain, setahun saja sudah cukup membuat hati ini terpaut pada kontrakan kami. Cukup setahun…

Oh ya, apa aku sudah bercerita tentang Ibu dan Bapak kontrakan? serta si Imam kecil, mbaknya dan mas Pras? Mereka semua adalah pemilik kontrakan yang sangat baik terhadap kami, sering sekali kontrakan kami dibersihkan Ibu, lalu Ibu yang tiba-tiba memberikan pisang goreng hangat untuk cemilan sore, atau si kecil Imam yang sering main kedalam kontrakan menggoda kami yang masih bujang. Kenangan itu….

Mas Al-Bayan yang selalu ketiduran sebelum memasukkan motornya kedalam, lalu ketika ditanya: “mana kunci motornya?”, ia pasti kelupaan. Mas Memble yang necis menuju kampus, yang akademisi sekali, dan kadang menghilang pulang ke rumah. Mas Gege yang narsisnya gak ketulungan, berasa bieber, dan doyan sekali berkata-kata seolah-olah ceramah motivasi. Mas Azmi yang lincahnya bukan main, tapi tilawahnya bisa menundukkan hati, penuh semangat. Mas Muh yang santai bukan main, kadang susah dibangunin, tapi akhir-akhir ini jarang terlihat. Terima kasih…

Sayang sekali… tahun lalu kami masih bisa sahur bersama, puasa bersama, tarawih bersama. Tapi tahun ini berbeda, semua akan sendiri-sendiri. Namun itulah waktu, yang bergulir dengan cepatnya, sayang sungguh disayang jika ada yang tidak memanfaatkannya dengan baik.

“Kalian…sungguh membuat pertemanan terasa berbeda.”

     

Best Regards,

sangterasing

12 June ’11, saat pagi melenakan pemakainya…

image source: 1

12 thoughts on “Malam itu kami berlima duduk berhimpitan…

  1. entah berapa tahun sudah kami tidur berhimpitan berempat, dan kini mereka -dan saya- sibuk dengan hidup masing-masing… Dan postingan ini membuat saya kembali -sangat- merindukan mereka…

    *ada bagian hidup bersama jejak-jejak mereka, dan itu indah tak pernah sirna…

    Like

    1. Semua personal punya kisah masing-masing mba’…
      happy atau tidak endingnya kisah kita, kita pulalah yang menentukan.

      smoga tetep terpelihara kebersamaan dengan temannya…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s