Semangat Pencapaian

Di sebuah tempat yang tinggi, tempat yang diimpikan semua atlet pendaki, bergantung 2 orang lelaki. Mereka yang bugar terlihat dari tubuhnya yang terjaga, padahal salah satu dari lelaki itu sudah menginjak usia separuh abad ditemani dengan lelaki muda beberapa meter diatasnya. Itulah tempat para pendaki memacu andrenalinnya, yaitu Grand Canyon.

Kedua lelaki itu telah memulai perjalanan dari kaki tebing sekitar 3 jam lamanya, dan perjalanan mereka telah mencapai dua pertiga dari seluruh perjalanannya. Ditengah perjalanan si muda berkeluh kesah karena medan yang dicapainya semakin sulit dijangkau ditambah dengan letihnya badan, namun si tua berpendapat lain, perjalanan yang telah mereka tempuh sudah hampir selesai dan akan berakhir di puncak tebing. Keduanya mengalami perdebatan, si muda bersikukuh untuk turun dan melanjutkan perjalanan mereka esok hari setelah kondisi badan mereka pulih, namun si tua menyanggah bahwa apa yang dilakukan mereka sekarang akan sangat berbeda esok hari, bisa saja niatan untuk mencapai puncak akan sirna esok hari.

Melihat perbedaan ini mereka akhirnya terdiam, dan masing-masing berfikir apa yang terbaik bagi mereka. Akhirnya kesunyian pecah ketika si tua berkata,

“Anak muda, perjalanan ini telah sampai lebih dari separuh. Waktu dan tenaga yang kita habiskan juga sudah banyak, apa kau mau berhenti di tengah jalan? Dan mundur begitu saja? Bisa saja ketika niatanmu melanjutkan esok hari, panas matahari akan lebih terik, atau badai dan hujan tiba-tiba menerpa, atau tali yang terpasang akan merenggang hingga tidak kuat lagi, atau lebih parah apabila niatanmu dan aku yang hilang. Maka lebih baik lanjutkanlah perjalanan kita yang “tanggung” ini, buang keluh kesahmu, jadikanlah diriku yang tua ini menjadi motivasi bagimu yang muda, jangan jadikan keletihanmu sebagai alasan. Kalau kau tahu akan letih nanti, mengapa engkau berangkat tadi saat di kaki gunung? Kalau tahu medan yang dicapai sulit, mengapa engkau berkata sombong akan kau taklukkan tebing ini? Bisa kau menjawabnya? Jika tidak, lanjutkan perjalanan ini.”

Mendengar perkataan si tua, akhirnya si muda menyadari bahwa keluh kesahnya hanyalah sebuah alasan. Pembenaran dari kelalaian dirinya dalam menentukan sikap, dan pembatal niatnya untuk mencapai tujuan. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Didasari rasa semangat dan pantang menyerah mereka pun mendaki hingga mencapai puncak tebing itu, sebuah tebing pencapaian dari usaha mereka yang didalamnya terdapat sebuah hambatan, kemudahan, saling mem-back-up dan perilaku saling mengerti.

Sebuah semangat merupakan elemen penting dari tercapainya sebuah tujuan, tahan banting dan kedewasaan akan menyertainya setelah rasa semangat berhasil dihadirkan dalam diri kita. Semangat yang dihadirkan tentunya bukan tanpa tujuan, namun haruslah terdapat suatu tujuan atau hasil yang akan dicapai. Semangat seperti itu bisa dikatakan sebagai “Semangat Pencapaian!”, yaitu semangat dengan tujuan yang menyertainya.

Semangat ini tentunya dihadirkan dengan hal-hal konkrit dalam kehidupan, contoh paling sederhana adalah semangat dalam belajar. Dengan belajar kita dapat meng-input seluruh hal yang kita butuhkan, dan meng-output sesuka hati dengan cara aplikasi skill atau mentransfer ilmu itu sendiri. Belajar bisa dianalogikan sebagai baterai dalam remote control sebuah Televisi, jika tidak terdapat baterai maka remote itu tidak akan berjalan. Atau seperti daya listrik pada sebuah rumah, jika kurang daya maka rumah itu hanya dapat menggunakan beberapa alat elektronik.

Begitu pula pada sebuah individu seperti diri kita, semangat belajar perlu dihadirkan, jika kurang meng-input ilmu dalam diri kita, maka “tenaga” yang kita dapat akan kurang pula. Belajar tidak hanya didapat lewat bangku formal, bisa didapat lewat keseharian kita masing-masing, pengalaman atau pelajaran dari kejadian orang lain serta cerita mereka.

Dengan semangat belajar tadi, akan muncul semangat untuk mengetahui, lalu berangkat dari mengetahui menuju ke semangat untuk melakukan, dan puncak pencapaian ada pada semangat untuk menjadi. Sehingga akan didapatkan 3 hal penting dalam belajar, yaitu learning to know, learning to do dan learning to be. Dan lewat semangat dalam belajar, kita akan berujung pada sebuah pencapaian.

*terinspirasi dari khutbah Jum’at yang disampaikan dosen saya di kampus, beribu-beribu terima-kasih atas pencerahannya.

Best regards,

sangterasing

image source: 1, 2, 3

2 thoughts on “Semangat Pencapaian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s