Sistem, atau pelaku sistem?

Sore hari, saat berkendara motor sepulang dari Depok setelah seharian berkegiatan disana, saya mendapati hal yang membuat saya bertanya-tanya. Tentang sebuah kinerja sistem yang dibuat oleh manusia, namun manusia pula yang melanggarnya. Sistem ini telah bekerja berpuluh-puluh tahun lamanya di Indonesia, namun dewasa ini sering disepelekan penggunanya, sedikit berlebihan memang membahasnya namun hal ini bisa menjadikan pembahasan yang menarik jika dikaji makna-permakna. Yaitu sebuah sistem lalu lintas yang kita sebut “lampu lalu lintas”.

Ya, benar! hal sederhana yang terlupakan. Jadi sore itu di sekitar daerah pancoran saya melihat lampu merah menyala terang tanda harus berhenti. Namun setelah saya berhenti, saya malahan diklakson oleh kendaraan mobil belakang saya, saya pun terheran-heran mengapa. Ternyata setelah diperhatikan semua kendaraan yang melaju searah dengan saya berjalan menerobos lampu lalu lintas yang menyala merah tersebut, dan saya perhatikan arah tegak lurus dengan saya juga tidak bergerak, bisik hati “apakah ini lampu lalu lintasnya yang error? atau memang semua orang ini melanggar?”, ingin hati tetap bertahan berhenti namun klakson sang pengendara dibelakang sudah menghabiskan kesabaran. Akhirnya saya ikut melaju bersama kendaraan lain dan melanjutkan perjalanan dengan tanda tanya besar.

Sering kali kita dihadapkan dengan kenyataan sulit, yang dimana saat itu kita ingin sekali berlaku benar tapi lingkungan tidak mendukung. Namun ada ketika kita membiasakan perilaku salah tersebut, kita malah terkena batunya. Kejadian lampu lalu lintas tadi bisa dijadi sebuah analogi tentang kesalahan sebuah sistem. Ataukah sistem tersebut tidak dirawat? atau memang si pelaku sistem yang terpengaruh dengan hal-hal buruk diruang sekitar. Semua saling berkesinambungan, dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Saya akan mencoba mengklasifikasikan bahwa ada beberapa kemungkinan terjadinya “kesalahan pelaksanaan” atas suatu sistem, yang pertama adalah kurangnya “perawatan” atas sistem tersebut walaupun asal mulanya sistem tersebut adalah baik. Sistem yang baik pastinya menghasilkan sebuah keteraturan/ ketertiban yang sempurna, tanpa cacat, dan baik bagi semua orang, namun akan menjadi gagal apabila “perawatan”-nya tidak berjalan. Akibatnya sistem yang sudah bagus menjadi gagal karena “pengurus sistem” tersebut tidak lagi memegang teguh asas-asas yang t’lah berjalan, dan munculnya ketidak-mengertian dari “pengurus sistem” tentang berlakunya sistem tersebut dimasyarakat.

Yang kedua adalah lemahnya sistem tersebut. Ya, inilah yang membuat para pelaku kejahatan di Indonesia kerap lepas di meja hijau. Karena sistem yang ada cenderung lemah serta dapat diputar-balikkan lewat permainan kata-kata, praduga-praduga dan bukti-bukti yang diselewengkan. Bukan tidak mungkin monetary effect juga ikut bermain. Sistem ini tidak jelas, multi interpretasi bahkan dapat dijadikan alat kejahatan (fitnah, character assassination, dll).

Yang ketiga atau yang terakhir adalah si pelaku sistem yang tidak menghormati adanya sistem tersebut. Ini mungkin yang sering kita temukan sekarang ini, seseorang yang diatur oleh sebuah sistem namun tidak melaksanakannya. Hal ini terjadi bisa saja karena pelaku sistem tidak mengetahui efek dari adanya sistem tersebut, sehingga ia tidak melaksanakannya. Kasus ini sulit apabila tidak terjadi komunikasi dua arah antar sang “pengurus sistem” dan “pelaku sistem”, walau si “pengurus” telah membuat sistem sebaik mungkin yang tanpa cacat akan sia-sia jikalau sang pelaku tidak menghormatinya. Akan lebih efektif apabila diberlakukan efek jera dan penghargaan terhadap si pelaku atas pelaksanaan sistem tersebut.

Itulah beberapa interpretasi saya atas sebuah sistem dan beberapa kasus-kasus yang saya temukan selama ini, dari sebuah contoh kecil “lampu lalu lintas” bisa kita angkat sebuah evaluasi besar tentang pelaksanaan suatu sistem di negara ini. Diperlukan pemuda-pemuda yang mengerti esensi akan suatu perubahan yang baik tentunya dilandaskan atas sistem yang baik pula, disini dibutuhkan andil dari kaum pemuda khususnya mahasiswa untuk menawarkan sistem yang solutif untuk kemajuan bangsa kita kedepannya.

Best Regards,

sangterasing

 

image source: 1, 2

2 thoughts on “Sistem, atau pelaku sistem?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s