Hari sepi tanpa mimpi,

jangan sampai kau mampir lagi..

jangan kau hinggap pada kalender Tahun Kabisat ini..

terbakar usang hingga mendera jiwa..

***

Tegakah kau?

Membiarkan sang raja tanpa jubah berkelana?

sedang pelana tidak lagi melekat..

Membiarkan sang raja berbicara manis dihadapan khalayak?

padahal hatinya tersedu-sedu..

***

Sudah cukup, jangan kau singgah lagi..

jangan di singgasana pengharapan ini,

jangan di pundi keilmuwanku,

jangan pula diatas karpet do’aku..

***

Tapi sudahlah, biarkan sang raja menari tanpa jubahnya..

asal hatinya tak lagi sendu..

Balas tutur kata manisnya dengan lemah lembut,

agar senyumnya tak lagi palsu..

***

Sudah cukup luka di bibirnya karena tergigit saat jamuan makan,

sudah lelah dirinya menaiki tangga istana,

kini biarkan ia menari..

***

untuk istrinya..

untuk anak-anaknya..

untuk jiwanya..

***

Dan untukmu hari, kupesan jangan lagi..

biar kutinggalkan secarik nota di samping pohon cerry,

yang bertuliskan “raja tak bisa diganggu”

atau..

“ia sedang sibuk”

atau..

“beliau sedang menjamu keluarga”

apalah yang bisa membuatmu beralih..

***

Hari tanpa mimpi, jangan usik lagi..

cukup sekali aku mati, hilang kendali..

Karena saat itu aku bagai wajan,

tapi wajan yang tanpa minyak…

atau bagai pot,

namun pot yang tanpa tanaman…

***

Karena setiap nanar,

takkan hilag tersapu badai..                        Jakara, 26-11-11 23.28

– sangterasing –

image source: 1

5 thoughts on “Jangan Kau Mampir Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s