Kata “Korupsi” kerap menjadi bahan media untuk mencari “jajanan” mereka diwaktu-waktu senggangnya. Seakan tidak ada berita menarik lainnya yang patut diangkat ke layar kaca. Bagi rakyat kecil kata itu bak “kerupuk” yang melengkapi “makan siang” Negaranya, walau tiap membicarakan hal tersebut tersebit nada sinis di dalamnya.

Tak tersadar pun mereka (masyarakat) yang membicarakan korupsinya para pejabat itu juga kerap melakukan korupsi. Dari mark-up proposal yang berlebihan, pungutan-pungutan liar, “pelicin” urusan agar antriannya didahulukan. Hal ini seakan mengakar di bangsa kita yang sudah berumur 66 tahun ini.

Apa daya? Orang-orang yang meneriakkan “ANTI KORUPSI” menjadi hambar dimata para pelaku korupsi (kecil-kecilan hingga besar-besaran). Merasa kata “ANTI KORUPSI” hanya wajib disuarakan oleh mereka-mereka yang ditugaskan untuk memberantas korupsi (KPK, ICW, Aktivis Mahasiswa), namun tidak menyentuh masyarakat kelas bawah.

Trek record “entertainer became politician”, juga serasa ikut tercoreng oleh berita-berita korupsi tentang A.S. yang notabennya mantan Miss Indonesia. Terlepas itu nanti terbukti tuduhan atau tidak, tetapi penilaian masyarakat jadi bergeser (termasuk saya). Padahal dilihat dulu, actor sekaligus politikus Alm. Sophan Sophiaan menjadi contoh yang baik dalam sepak terjangnya, keharmonisan rumah tangganya, hingga akhir hayatnya tidak pernah ada kasus-kasus miring.

Belum lagi jika kita melihat keluar negeri, ada mantan bintang film Hollywood yang menjadi gubernur California, ia pun melakukan tugasnya dengan baik.

Korupsi selama ini dikaitkan dengan hal yang buruk. Mengapa? Saya pikir karena, itu artinya: Mengambil hak orang lain (uang), Mengurangi bobot kewajiban semestinya (korupsi waktu), Memperlancar urusan dengan segala cara (menyuap, gratifikasi). Tapi bagaimana jika kita sedikit bermain dengan pemikiran kita, korupsi yang baik? Itu bisa terjadi kok, misalkan Korupsi Kerjaan, sehingga seseorang bekerja dengan mengambil hak kerja orang lain dan menyebabkan orang tersebut bekerja lebih daripada tugas yang dibebankan padanya. Seorang majikan membersihkan halaman depan rumahnya, padahal itu kan sudah tugas pelayannya, nah itu kan bisa dianggap korupsi (yang baik) karena mengambil kerjaan si pelayan.

Sepertinya konsep diatas cuma diangan-angan saya, haha…😀

Tapi dari segala permasalahan diatas, satu permasalahan sebenarnya adalah masyarakat (khususnya para pejabat) sudah hilang “URAT MALU”-nya masing-masing. Disinyalir korupsi Milyaran Rupiah, tapi malah teriak-teriak memanggil kawannya yang terlibat. Nyari temen sepertinya, agar sama-sama kena.

best regards,

sangterasing

image source: 1, 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s