Kira-kira sebulan lamanya waktu saya untuk merampungkan bacaan novel berjudul “Pride and Prejudice”. Novel yang “terpaksa” kubeli saat penghabisan Bazar di acara Kumpul Penulis Depok 15 Januari lalu.

Tak pernah diragukan bahwa nama Jane Austen selalu lekat dalam hati pecinta sastra dunia. Novel-novelnya seperti Pride and Prejudice, Emma dan Sense and Sensibility tak pernah lekang dimakan waktu. (Biografi, hal. 5 “Pride and Prejudice”)

Novelis Inggris kelahiran tahun 1775 ini mengawali karirnya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Keahliannya adalah menulis cerita dengan genre roman, yang diwarnai fakta tentang keadaan sosial pada masanya. (Biografi, hal. 5 “Pride and Prejudice”)

Dengan keahliannya itu, maka lahirlah Novel roman sepanjang masa yaitu “Pride and Prejudice” yang sudah berumur beberapa Abad, namun masih dekat dihati para pecinta sastra.

Di dalamnya, Jane Austen benar-benar mengedepankan sisi romantis dalam segi ruang yang sudah lama tidak ditemukan pada jaman sekarang ini. Sebuah perasaan yang mendalam terhadap lawan jenis, namun disertai dengan kehati-hatian dan penghormatan yang amat sangat. Pengungkapan cinta tidak terlalu penting disini, namun proses menuju ke jenjang pernikahan itulah yang dijunjung tinggi pada masa itu. Seakan pernikahan bagi sang Ibu menjanjikan surga atas anak dan keluarganya.

Kultur bangsa Eropa abad 18 terlihat sangat dominan disini. Adab menyanjung satu sama lain, penghormatan kepada seseorang dari kelas tinggi, penghormatan terhadap Ratu dan sebagainya. Ya, memang dihiasi dengan kebiasaan bergosip-gosip-ria antar para tetangga, yang ternyata memang sudah dimulai sejak Abad ke-18 yang lalu.

Penggambaran lansekap yang dituturkan mengingatkan saya kepada film “Sound of Music” beberapa puluh tahun silam. Bukit hijau, Taman Bunga, Rumah Megah dengan kebun-kebun cantiknya menjadi tempat rekreasi favorit para tokoh-tokoh didalamnya.

DVD cover awal rilis

cover buku cetakan baru yang saya baca

Sekarang saya akan mencoba mendeskripsikan tokoh-tokoh (yang saya ingat saja ya.. :P) yang ada di dalam Novel “Pride and Prejudice”. Tokoh-tokoh yang berbeda sifat satu sama lainnya.

Pertama adalah Elizabeth Bennet. Beliau adalah anak kedua dari pasangan unik Mrs. Bennet dan Mr. Bennet. Ia merupakan gadis berpendirian yang opininya tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun, hanya pendapatnyalah yang dianggapnya bisa diperhitungkan. Namun dengan begitu, dia memandang fair ke berbagai permasalahan, dengan tidak mengabaikan pendapat-pendapat sekitarnya. Jatuh cinta baginya bukan perkara mudah, ia sangat hati-hati dalam membuka hatinya kepada seseorang (dalam novel ini Mr. Darcy). Maka dari itu, perjalanan cintanya di novel ini dipenuhi berbagai warna, dari duka hingga suka. Ia menjadi sosok favorit para pembaca di dalam Novel ini, hingga menjadi karakter yang dikagumi perempuan Inggris dizamannya.

Yang kedua adalah Jane Bennet. Jika Elly (panggilan Elizabeth Bennet) adalah anak kedua, Jane adalah kakak tersayangnya. Sosok Jane diceritakan sebagai seorang wanita yang positif melihat keadaan, tidak ada sedikit kecurigaan pun dalam peliknya sebuah masalah. Bersikap bijak dalam sebuah pertikaian menjadi jatahnya. Semua orang dapat dengan mudah mencintainya, karena kecantikannya, keanggunannya, tutur bicaranya, laki-laki manapun dalam sekejap akan berfikir bahwa Jane adalah bidadari yang turun untuk mereka. Namun diakibatkan pikirannya yang terlalu positif, ia cenderung naif dalam melihat permasalahan. Sehingga ketika sebuah masalah menimpanya, ia lebih memilih untuk menanggungnya sendiri. Walau begitu, ia menjadi pasangan curhat yang sangat tepat bagi Elly. Sebenarnya mereka berdua memiliki ketiga adik lagi, namun saya tidak berminat untuk membicarakannya disini.

Karakter ketiga dan keempat yaitu tidak lain adalah orang tua dari Elly dan Jane, yaitu Mr. Bennet dan Mrs. Bennet. Sifat kedua pasangan suami-istri ini bertolak belakang sekali, walau begitu interaksi antara mereka tidak pernah menimbulkan kesalahpahaman.

Mr. Bennet cenderung lebih banyak diam daripada berkomentar, sehingga kadang menimbulkan kesan “galak” terhadap anak-anaknya. Kebiasaannya adalah membaca di ruang baca khusus yang selalu dikuasai Mr. Bennet seorang diri. Walau banyak diam, pendapatnya didengar oleh seluruh anggota keluarganya, tindakan baginya lebih penting daripada hanya sekedar berkomentar.

Mrs. Bennet bisa sangat menjengkelkan dihadapan para anak-anaknya. Karena sifatnya yang cerewet mengomentari berbagai tindakan anak-anaknya, bisa membuat jengkel seisi ruangan. Namun cintanya kepada kelima anaknya tidak dapat diragukan, terlihat dari saat salah satu anaknya menghilang ia segera jatuh sakit. Pelayanan kepada tamu oleh Mrs. Bennet tidak usah diragukan lagi, ia akan berusaha semampunya agar tiap malam digelar “Jamuan Makan Malam” dirumahnya. Para tamu bisa dari kerabat, maupun tetangga-tetangga.

Berikut adalah para tetangga sekitar rumah Mr. dan Mrs. Bennet, yang diposisikan juga sebagai tokoh utama dan tokoh pendukung dalam Novel ini. Mereka adalah Mr. Bingley dan teman dekatnya Mr. Darcy, Mr. Bingley dikisahkan sebagai penyewa rumah warisan dari keluarga Bennet yang letaknya hanya beberapa blok dari kediaman Bennet. Sedangkan Mr. Darcy adalah teman dekat Mr. Bingley yang sudah lama berteman dengan Mr. Bingley.

Mr. Bingley mungkin bisa diibaratkan sebagai Jane versi laki-laki. Ia dapat dengan mudah menjadi perhatian orang-orang disekitarnya. Tuturnya yang sopan dan perawakannya yang gagah dan tampan, dapat menawan hati tiap wanita disekitarnya. Walau masih terbilang warga baru, namun pribadinya dapat dengan cepat diterima masyarakat atas sifatnya tersebut. Kecintaannya terhadap keindahan mejadi sangat klop dengan Jane Bennet yang memiliki sifat yang sama, dan hal itu memang terjadi. Nasib percintaan mereka bisa dibilang hampir kandas ditengah jalan, namun takdir berkata lain dan keadaan malah terjadi diluar dugaan.

Mr. Darcy pada awal mulanya menjadi “Bingley” kedua saat malam pertama kedua orang itu datang pada acara dansa daerah tersebut. Perawakannya yang lebih tinggi dari Mr. Bingley dan wajahnya yang cukup tampan, terkihat sangat dominan di lantai dansa tersebut. Namun baru berselang beberapa menit, semua orang berbalik membencinya. Sikapnya yang acuh tak acuh terhadap sekitarnya membuat para tamu jengkel, ditambah dengan dirinya yang tidak banyak bicara membuat setiap orang berkesimpulan yang sama. Namun di akhir cerita Elizabeth Bannet menemukan sifat lain dari Mr. Darcy, sifat yang bahkan pada mulanya Elly sendiri menyangkalnya. Karena temuannya tersebut membuat Elly merubah persepsi tentang Mr. Darcy sendiri.

Beberapa tokoh diatas merupakan tokoh yang paling sering muncul ditiap cerita, sedangkan sisanya hanya muncul ketika momen tertentu, seperti ketiga adik Jane dan Elly, sepupu jauh Mr. Darcy, Paman dan Bibi Elly, Bibi Mr. Darcy yang bisa dibilang seorang terhormat pada masanya. Namun saya tidak bisa mengesampingkan peran masing-masing tokoh yang muncul di dalam cerita ini.

Kesimpulannya, Jane Austen berhasil membawa suasana Eropa pada Abad 1700-an silam ke masa kini. Ia lengkap menggambarkan keadaan sosial, kultur lengkap dengan sample-nya, serta keadaan alam pada masa itu lewat sastra berupa cerita roman. Penggambarannya lewat “Pride and Prejudice”, membuka pandangan saya tentang Eropa masa lampau, dimana kehormatan tiap individu dijaga sedemikian rupa, pernikahan merupakan pencapaian yang indah bagi tiap keluarga, penghormatan antar sesama serta sifat kedekatan antar keluarga menjadi kultur yang abadi pada masanya.

“They walked on, without knowing in what direction. There was too much to be thought, and felt, and said, for attention to any other objects.”
Pride and Prejudice
Elizabeth and Darcy, Chapter 58.

best regards,

sangterasing

image source: 1, 2

11 thoughts on “Sedikit Tentang “Pride and Prejudice”

    1. Saya malah belom pernah nonton filmnya tuh, sepertinya keren ya filmnya.
      Tapi memang jago Jane Austen membangun suasana di zamannya itu, sepertinya membawa suasana itu ke masa sekarang.

      Salam kenal juga🙂, semoga bermanfaat blognya..

      Like

    1. Saya baru pertama baca novel luar mas, langsung terpana lewat kata-katanya Jane Austen.. bener penggambaran yang apik tentang kultural, suasana dan lansekap Inggris abad 1700-an. Ya walau baru bisa baca terjemahannya, kalau yg inggris udah keblinger kali ya..

      trim’s udah mampir ya mas..

      Like

  1. nama-nama tokohnya mirip banget sama buku ‘Prom and Prejudice’. Tokoh utamanya juga sama, Ellizabeth Bennet, Darcy, Jane, Bingley.. sifat-sifatnya juga kurang lebih sama.. apa kedua novel ini ada hubungannya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s