Baru-baru ini negara kita dirundung lagi oleh kesedihan. Seperti tidak ada habis-habisnya kita warga Indonesia diperingatkan, tentang kehidupan, tentang kematian, tentang musibah, dan tidak sedikit dari kita yang menapik kabar tersirat ini. Jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 menjadi goresan pedih yang kembali terulang, puluhan nyawa menghilang ditengah Gunung Salak meninggalkan sanak saudara dirumah sana.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 merupakan pesawat buatan Rusia yang sedang berusaha menaikkan pamornya lewat tur-tur di berbagai negara. Maka tidak heran berbondong-bondong pula para pembeli yang bersedia merogoh koceknya untuk pesawat yang terbilang masih baru ini. Usaha Rusia memproduksi pesawat ini dalam rangka memperbaiki citra buruk tentang pasar produksi pesawat terbangnya, sekaligus memulai kompetisi bisnis penerbangan di dunia internasional.

Pesawat komersil yang mampu mengangkut 96 penumpang ini hilang kontak pada 9 Mei silam, pukul 14.33 WIB atau sekitar 20 menit lepas landas dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Pesawat yang dipiloti Alexander Yablontsev itu tengah demo terbang atau joy flight.

Sebelum ke Indonesia, Sukhoi sudah terbang di Myanmar, Pakistan, serta Kazakhstan. Pesawat ini dijadwalkan akan mencoba udara Laos dan Vietnam. Semuanya dengan satu tujuan, menawarkan pesawat yang diklaim canggih ini.

Komunikasi terakhir sebelum hilang dari pantauan radar, pilot Alexander minta izin kepada Air Traffic Control atau ATC untuk menurunkan ketinggian pesawat. Mantan letkol Angkatan Udara Rusia yang memegang 14 ribu lebih jam ini menurunkan pesawat dari ketinggian 10.000 kali ke 6.000 kaki ke arah kanan dengan lokasi di sekitar Gunung Salak. (berita.liputan6.com)

Yang anehnya, ternyata petugas pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC) ternyata sempat telat 19 menit sebelum menyadari pesawat Sukhoi menghilang. Insiden ini terjadi setelah Pilot Aleksandr Yablontsev melapor ke petugas Bandara Soekarno – Hatta, meminta izin untuk turun dari 10.000 kaki menjadi 6.000 kaki atau 1,8 kilometer di atas permukaan laut.

Namun dikarenakan menurut petugas ATC pesawat sukhoi masih berada di zona aman dari gunung dan bukit (berada di training area Tatang Sendjaja), akhirnya permintaan tersebut diizinkan. Petugas saat itu memang disibukkan memandu 13 kapal lainnya termasuk Sukhoi. Namun beberapa saat petugas baru menyadari ada keanehan di radar Sukhoi, radar tersebut berhenti di satu titik. Anehnya lagi sistem pringatan seharusnya berbunyi kencang jika terjadi hal seperti ini, namun Deputi Senior General Manager Air Traffic Control (ATC) Cengkareng Mulya Abdi menyangkal radar di menara tak memberi peringatan. “Radar berfungsi. Karena itu, kami segera tahu ada pesawat hilang kontak,”. (tempo.co)

Saat ini telah teridentifikasi 45 korban Sukhoi dari Indonesia, sisanya masih dalam pencarian. Tim “ante mortem” mengumpulkan data dari pihak keluarga korban yang ikut dalam pesawat Sukhoi tersebut.

“Tim post mortem mulai aktif bekerja pada 11 Mei setelah tim Basarnas mengevakuasi jenasah dari lokasi jatuhnya pesawat,” ujarnya. (antaranews.com)

Tragedi ini menorehkan luka pedih bagi masyarakat Indonesia, khususnya keluarga korban. Akhirnya kita diminta untuk merenung lagi, setelah kasus korupsi yang merajalela, perzinahan dan prostitusi menghiasi kaca jendela televisi, kebrutalan dan kebringasan geng motor yang membabi buta, gelombang kerusakan moral yang malahan disambut dengan gegap gempita oleh anak-anak bangsa, kita sekali lagi diminta merenung bahwa kematian sangat dekat, ia bisa datang kapan saja. Kematian bagi manusia sudah merupakan keharusan, hanya perkara waktu yang menjadi misteri namun kepastian itu sudah dituliskan di Al-Qur’an.

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Q.S. Al-Jumu’ah: 008

best regards,

sangterasing

image source: 1, 2, 3

4 thoughts on “Sukhoi: Indonesia Berduka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s