Menengok kepada kejadian-kejadian terakhir di Indonesia ini, membuat diri saya tertarik unuk membahas suatu hal yang menyangkut pemahaman seseorang. Pemahaman disini mungkin berhak dimiliki setiap orang, terlebih lagi di masyarakat yang tinggal di negara demokrasi Indonesia. Namun yang jadi masalah, ketika si empunya pemikiran “menyebarkan” pemikirannya lewat diskusi-diskusi, seminar-seminar, kajian-kajian yang berkedok kegiatan “Islami”, lebih-lebih pemikiran tersebut adalah pemikiran yang terbukti SALAH.

Pemikiran yang tadi saya bahas diatas, tidak lain dan tidak bukan adalah pemikiran LIBERAL! Ya, pemikiran ini sedang ramai disuarakan oleh orang-orang yang terlibat didalamnya, disebuah organisasi yang pendiriannya memang bermaksud untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran sesat tersebut.

Pemikiran Liberal menurut diarru, cenderung didukung oleh orang-orang yang secara ekonomi bergerak maju, kaum borjuis, mereka-mereka yang hidupnya merasa sudah mapan sehingga merasa tidak berhal dikekang oleh aturan-aturan yang berlaku. Sehingga menurut mereka berperilaku “bebas sebebas-bebasnya” merupakan hak mereka, terkadang menembus norma-norma sosial dan agama. Sedangkan lawannya, yaitu sosialis adalah pemikiran yang kebanyakan dianut oleh kaum lemah ekonomi. Mereka yang bercita-cita penyamarataan derajat kemanusiaan.

Walau sebenarnya, antara kedua tersebut tidak ada yang penuh ke sisinya masing-masing, sang kaum “liberalis” tidak mempunyai dukunga kapital yang kuat dan sang kaum “sosial” tidak benar-benar mencita-citakan tujuan penyamarataan tersebut.

Menurut Wikipedia, liberalisme adalah: Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. [2] Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. (Sukarna. Ideologi : Suatu Studi Ilmu Politik. (Bandung: Penerbit Alumni, 1981). Kata-kata “..khususnya dari pemerintah dan agama.” sudah cukup mengerikan bagi saya. Mahluk macam apa yang ingin berkelakuan apa saja, berkedok kebebasan berekspresi tanpa bersedia untuk tunduk pada peraturan “apapun”. Binatang pun dengan sukarela ikut aturan kelompoknya disaat-saat migrasi.

Kata-kata “..khususnya dari pemerintah..” seharusnya sudah cukup diasumsikan sebagai ancaman kedaulatan negara di seluruh dunia, karena mereka tidak bersedia menaati aturan pemerintah yang telah lama membangun stabilitas negara ini. Tambahan ”…dan agama..” membuat saya makin tidak bisa berkomentar, karena bahkan Yahudi pun tunduk pada aturan agama mereka, apalagi di Indonesia yang notaben-nya negara mayoritas Islam.

Kegerahan pun makin jadi setelah saya baru mengenal istilah “Islam Liberal”. Awal mendengar nama itu jujur tidak ada sedikitpun kecurigaan didalamnya, namun lewat artikel yang saya baca, serta fakta-fakta lapangan yang saya lihat membuat kegerahan muncul ke permukaan. Pemahaman Islam apa yang tidak bersedia tunduk pada agama (lihat uraian sebelumnya), namun menyatakan dirinya Islam (yang adalah sebuah agam)??? Tanda tanya besar menghantui.

Ada indikasi bahwa mereka melihat “The majority of the religion, could affect their importance”. Karena sebuah mayoritas yang dibangun atas ke-solid-an agama (dalam konteks ini adalah Islam di Indonesia) akan menjadi kekuatan besar yang mendukung stabilitas negara, dan mereka khawatir akan hal itu. Jelas sekali bahwa ini adalah produk luar negeri yang masuk ke Indonesia untuk mengobrak-abrik negara ini.

Liberalisme di Indonesia sendiri telah ada dari zaman 60-an. Seorang peneliti Islam Liberal di Indonesia, Greg Bolton telah lama membahas pemikiran ini. Dari sini bertebaran buku-buku tentang Liberalisasi Islam di Indonesia. Liberalisme pada tahun 90-an tidak terlalu berbeda dengan zaman Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid, namun isu-isu yang diangkat dimodifikasi agar terlihat lebih menarik dikonsumsi; yaitu urgensi interpretasi atas teks agama.

Klaim mereka adalah “Reinterpretasi atas teks agama tidak hanya sebuah keniscayaan, melainkan kebutuhan untuk mendialokkan agama dan realitas saat ini. Interpretasi teks suci hanya berlaku sesuai dengan kondisi zamannya, tak ada interpretasi yang berlaku untuk sepanjang masa, dan absolut. Dari itu, setiap generasi memiliki hak untuk melakukan interpretasi atas teks suci al Qur’an untuk diaktualisasikan sesuai dengan zamannya (Hal: 133-134, “Islam Liberal” Dr Zuly Qodir)”.

Penggalan paragraph diatas tegas mengatakan bahwa teks-teks agama (dalam hal ini Al-Qur’an dan Al-Hadist dalam Islam), bisa disesuaikan dengan zaman. Misal; ketika pada zaman Rasulullah dilarang minum khamr, karena khamr memabukkan (disamping itu tertulis di surat Al-Maidah: 90-91) dan dapat membuat orang hilang akal. Menurut interpretasi mereka, yaitu; pada zaman itu Rasulullah hidup di Arab dan notabene-nya daerah Arab adalah panas. Maka wajarlah Rasulullah melarangnya, karena akan menambah suhu badan lebih tinggi dari udara, lain lagi jika di puncak yang udaranya dingin. Nah, pemikiran inilah yang berbahaya. Mereka beranggapan pemikiran manusia adalah diatas segala-galanya, bahkan melebihi Tuhan. Ayat-ayat Qur’ani yang bersifat absolut dirasa dapat didebat seenaknya, seperti haram atau halal, konsep ketuhanan, dll.

Selain itu para aktivis Liberal selalu mengangkat tema-tema kemanusiaan, kesetaraan gender, anti-kekerasan atas nama agama, dan tema-tema tersebut didukung oleh media yang marak memberitakan hal tsb. Ketika banyaknya muncul di media pemberitaan tentang “pelecehan seksual terhadap wanita”, para aktivis tsb mengangkat tema “kesetaraan gender” pada RUU Kesetaraan Gender, dimana wanita berhak untuk mendominasi keluarga dan kehidupan sosialnya tanpa terikat sebuah budaya bahkan aturan agama. Goal yang mereka tuju adalah munculnya dukungan pemerintah terhadap kaum lesbian dan gay yang lagi-lagi diimpor dari Barat. Karena dalam lesbian, kaum hawa berada dipuncak kekuasaannya, berhak menjadi pihak yang dominan dalam hubungan mereka (antar perempuan).

Pemikiran ini kembali muncul akhir-akhir ini dan menjelma dari pemikiran individu (individual thought) pada tahun 60-an menjadi pemikiran kelompok (group thought) yang diakomodir dengan berdirinya JIL (Jaringan Islam Liberal). Pemikiran yang dibawa Ulil (pendiri JIL) juga tidak jauh-jauh dari tema-tema Islam Liberal sebelumnya, berkisar urgensi interpretasi teks atas agama dengan cover kemanusiaan, dll. Ia selalu meminjam istilah-istilah dan pemikiran dari Barat yang tokoh-tokohnya tidak seluruhnya kita kenal, padahal tokoh-tokoh tersebut diakui dunia berafiliasi dengan Liberalisme.

Dari uraian diatas sudah bisa ditarik sebuah kesimpulan singkat, bahwa paham-paham impor tersebut bisa merusak budaya Indonesia, bukan sekedar mewarnai namun membunuh identitas kebangsaan kita. Karena bangsa Indonesia yang dengan beragam Agama ini sangatlah mudah untuk diadu-domba. Dukungan utama mereka adalah dalam hal finance dan keberpihakan media, lembaga-lembaga bantuan seperti Asian Foundation, Rotary Club tanpa segan-segan selalu memberikan dana demi aktifitas mereka.

Maka sebagai bangsa Indonesia dan Muslim yang baik, kita harus pandai-pandai menyaring segala pemikiran yang tidak layak untuk dikonsumsi. Karena dari pemikiran-pemikiran tersebut, beberapa bermuara kepada berputusnya kita kepada norma-norma masyarakat, terutama norma-norma agama. Sebagai umat muslim kembalilah ke Qur’an dan Sunnah yang telah diajarkan Nabi Muhammad saw. Pemikiran-pemikiran tersebut akan kalah apabila kita memiliki keimanan yang penuh terhadap agama yang kita anut (Islam), penguatan pondasi dapat dibangun dengan tsaqofah-tsaqofah keislaman dan pengamalan atas perintah-perintah agama.

Janji Allah takkan diingkari…

source: Wikipedia, GP-Ansor, diarru (personal blog).

best regards,

sangterasing

image source: 1, 2, 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s