Aku akumulasi kawan-kawanku

Aku. Ya, sebuah kata yang sulit sekali dewasa ini dideskripsikan dikarenakan zaman yang sudah berubah, sehingga masyarakat lebih sulit mendeskripsikan “Aku” daripada “Dia”, “Mereka”, atau “Engkau”. Mungkin ini disebabkan akibat arus mainstream yang gencar diberiktakan media, sehingga sekarang tiap individu berjalan seiringan dengan apa yang dilihat pada media. Bisa juga dikatakan sebagai komunisme modern, namun kali ini masyarakat dikontrol oleh “invisible hand” yaitu media.

Berbondong-bondong manusia sekarang mengikuti arus jaman, mereka berkilah bahwa itu merupakan “adaptasi” terhadap perkembangan zaman. Walau tanpa mereka sadar, mereka telah meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama mereka terdahulu.

“Aku akumulasi kawan-kawanku”, mengapa begitu? ada istilah yang menyebutkan: Jika kita berkawan dengan tukang parfum, maka wangi akan menyerupai parfum. Jika dengan tukang Abu, wangi juga akan menyerupai abu. Itulah diriku, kebanyakan aku berkaca pada sahabat-sahabatku, teman dekat, atau hanya kenalan sebentar namun sudah menjadi referensiku bersikap. “Plagiarism”? Tidak juga, apa salahnya mengambil yang baik-baik dr orang lain kan?

Jadi jangan heran jika hal-hal yang kukatakan, atau ceplas-ceplos dari mulutku yang keluar begitu saja menyerupai kawan-kawanku. Bukan disengaja, namun sepertinya itu terjadi bak adaptasi, seperti orang Jakarta yang menetap di Bandung, lama-kelamaan pasti orang Jakarta tsb berlogat¬ Sunda. Itulah yang ku sebut sebagai adaptasi sikap.

Dalam sebuah sikap, kadang tersimpan malu-malu.
Menerka-nerka disetiap gerak-gerik.
Menjadilan hal yang ghaib berubah nyata dipikiran.
Tidak bijak sekali, namun itulah manusia.
Meredam nafsu dengan akal, menyiram hasrat dengan tawakkal.

Aku type yang sangat terpengaruh dengan lingkunganku, Alhamdulillah diriku berkembang di lingkungan Islami yang awalnya kudapat dari bangku SMA (Rohis 6 Jkt). Mungkin itu sibgoh (bener apa salah ni? .red) pertama yang kudapat didunia “Ke-Rohis-an”. Bayangkan jika aku dari awal sudah bermain di lingkungan anak Band, anak Futsal, anak Basket, anak Rusuh, mungkin hidupku sekarang tidak akan seinspiratif ini. (Tentunya aku sangat berterima kasih kepada saudara-saudara seperjuangan dahulu, tanpa kalian mungkin diriku takkan tumbuh lebih baik. :))

Namun keterlibatanku dalam Rohis 6 Jkt tidak menghalangi diriku untuk mencari hal-hal baru diluar sana, tentunya dalam batas-batas yang syar’i. Akhirnya sedikit-sedikit aku mengikuti eskul band. Namun karena ada hal-hal yang tidak membuatku nyaman, akhirnya cuma numpang nama. Ketertarikanku pada dunia musik berawal dari SMP. Pamanku yang handal dalam memetik gitar, membuatku berdecak kagum, bagaimana ia bisa membuat harmonisasi lagu seperti itu. Ya, akhirnya dengan skill-ku yang lumayan kuberanikan mengikuti dunia permusikan SMA. Sebenarnya hanya latihan-latihan kecil di studio, tapi yang penting bakat dapat tersalurkan. Moga-moga bakat ini bisa berguna bagi syiar Islam.

Kata ibu,
“Bakat itu titipan Allah, bisa jadi hal pertama yang ditanyakan.”
“Apa yang kau lakukan dengan bakatmu yang telah Kuberikan? Tanya Allah”
Jangan sampai terdiam kala itu, kan kumaksimalkan bakat ini.
Demi Islam nan Jaya di akhir nanti.

Dan ketika di kampus, karena sudah nyaman di SMP dengan suasana “Rohis”. Alhasil diriku mengikutik kegiatan UKM Fikri di PNJ dari awal masuk. Hem.. sebenarnya sempat ragu untuk terjun lagi ke dunia dakwah di tingkat pendidikan, namun sahabat serta saudara seperjuangan (Ihsan AP 2008) “memukul” keras-keras diriku yang enggan ikut serta dengan kalimat:

“Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(Quran Surat Muhammad Ayat 7)

Bukan cuma “memukul”, namun kata-kata itu masih tersimpan di dalam diriku. Bagaimana suasana saat itu terpotret jelas dalam benak, berjalan santai di depan Gedung praktek Akutansi kampusku namun hampir saja terhenti jalanku. Walau saat ini beliau telah berpindah kampus, namun jasa beliau insya Allah berguna dalam diri ini.

Kata kau “Teguh-lah”!
Paling tidak itu yang sempat terekam dari ucapanmu.
Menambah makna perjuangan dalam diri ini.
Hanya Allah yang berkuasa membalasnya.
Jazakallah khaer.

Sekarang diriku sudah memasuki dunia kerja, mengulang memori terdahulu dengan senantiasa mengambil hikmah, bukan menyesali merupakan kemampuan termahal yang tidak bisa dilatih. Salut dan sedikit iri kepada teman-teman yang sudah bisa memberikan tenaga-fikirannya untuk dien ini, melawan arus mainstream dengan nasrul fikroh yang murni datangnya dari Allah. Berharap masih ada tenaga untuk melakukannya lagi.
Tentang keluarga? Banyak hal menarik didalamnya, namun tak pantas untuk diungkapkan. Intinya semua hal yang terlewati insya Allah bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga.

Jzk khaer kepada saudara-saudaraku, atas warna-warna yang diberikan atas nama-Nya.
Membina diri yang fakir ilmu, kosong melompong namun kau isi dengan lembut.
Kau tuang perlahan air sejuk yang mengalir disukma, memadamkan api yang bergemuruh tak tahu malu.
Semoga sempat kubalas budi baikmu, agar diakhirat nanti kita bertemu dengan wajah senyum dan saling menyapa.

best regards,
sangterasing

#diambang kepastian

image source: 1, 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s