Kebahagiaan Sekarang atau “Recent Happiness” | Bagaimana rizki dan kekayaan dalam Islam?

Assalamu’alaikum…

Sudah lama tidak update Blog nih, bahkan nulis dalam Blog pun perlu komitmen ya..  apalagi berkeluarga?😀

Setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk bahagia dan hidup lebih baik, dari segi apapun dan tentunya dengan cara yang terbaik. Kebahagiaan dan kebaikan hidup menjadi cita-cita yang asasi bagi masing-masing individu, maka dari itu dalam setiap diri akan mencari cara bagaimana agar sampai pada tujuan tersebut.

Kebahagiaan dan kebaikan hidup harus kita pahami bahwa bukan hanya dikejar untuk kehidupan dunia saja, namun juga untuk kehidupan akhirat. Disini dapat kita bagi tujuan kebahagiaan manusia menjadi dua sektor, yaitu Kebahagiaan Sekarang atau “Recent Happiness”, dan Kebahagiaan Setelah-Kehidupan atau “Afterlife Happiness”.

Kali ini saya akan membahas tentang “Recent Happiness” atau Kebahagiaan Sekarang, atau sederhananya kebahagiaan di dunia. Kebahagiaan di dunia banyak sekali macamnya, kasih sayang, keluarga, teman dan kerabat, dan kecukupan materi. Saya akan kerucutkan pada “kecukupan materi”.

Banyak sekali individu-individu yang mengimpikan kehidupan yang berkecukupan, bisa membeli rumah dengan mudah, kendaraan yang diinginkan, kesehatan yang terjamin, serta kenikmatan rasa dalam bersedekah. Namun dalam pencapaian mimpi tersebut banyak yang kehilangan esensinya, yaitu “proses” menuju kesana-nya.

Tidak jarang seseorang yang menginginkan agar kaya, lantas ia “main” dukun. Yang lebih parah jika ada yang merugikan orang lain, contohnya ialah KORUPSI. Sebagai umat Islam kegundahan ini seharusnya tidak ada lagi, karena masalah rezeki adalah kuasa Allah dalam mengaturnya. Alangkah sialnya diri ini jika disibukkan dengan pikiran-pikiran buruk tentang harta kekayaan serta obsesi berlebihan kesana.

Mengatasi rasa takut miskin

Dalam kitab suci Al-Qur’an telah dibahas tentang rizki seseorang yang diatur oleh Allah SWT. Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat QS. Hud [11]: 6). Maka jika seorang Muslim dalam keadaan takut miskin, misalnya usahanya yang bangkrut, atau hutangnya yang menggunung sehingga ia takut jatuh dalam kemiskinan yang menyengsarakannya, istrinya dan anaknya, maka berkacalah pada QS. Hud (11): 6. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menyengsarakan hambanya, dan menempatkannya pada cobaany yang tidak bisa dipikulnya.

Bagaimana cara agar kaya dalam Islam?

Pembahasan ini akan sangat menarik, karena biarkan saya untuk membahasnya bukan dalam segi bisnis, pengusaha, berdagang yang diajarkan Nabi. Walaupun memang mencari kerja, berusaha dan berdagang juga salah satu cara agar umat Muslim menjadi kaya harta di dunia.

Namun ada elemen penting dalam me-“maintain” harta kita dalam Islam, bukan investasi bisnis tapi lebih tepatnya adalah investasi akhirat. Dengan investasi akhirat kita mendapat dua kebahagiaan sekaligus! “Recent Happiness”  & “Afterlife Happiness”. Bagaimana cara investasi akhirat? Sederhana sekali, yaitu dengan sedekah.

Kita mengetahui bahwa sedekah memberi ganjaran kita 700 kali lipat dari apa yang kita sedekahkan. Coba cek pada surat Al-Baqarah: 245 & 261, disana disebutkan “…Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” Serta “…serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”. Dari dua ayat tersebut bisa disimpulkan bahwa ternyata sedekah juga membuat kita kaya lho.!! Maka tidak heran bagaimana istri Rasulullah, Khadijah kebingungan mengenai hartanya yang terus bertambah meskipun ia menyedekahkannya terus menerus.

Walau begitu niat sedekah haruslah diniatkan untuk Allah, sedangkan rizki yang belipat biarlah menjadi efek samping yang menyenangkan.

Wassalamu’alaikum..

Best regards,

sangterasing

image source: 1, 2

2 thoughts on “Kebahagiaan Sekarang atau “Recent Happiness” | Bagaimana rizki dan kekayaan dalam Islam?

    1. Syukur bentuk kecintaan kita kepada Allah sang pemberi rizki, karena kesyukuran kita maka Allah akan lebih memberik rizki pula.

      Seperti anak yang berterima kasih kepada bapaknya, pasti sang anak akan dikasih lebih lagi.🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s