Saya coba beranikan menulis tentang hal yang berkaitan dengan tema pernikahan. Saya kira perlu dipahami bagaimana pandangan seseorang tentang sebuah pernikahan, baik itu untuk sang penulis sendiri atau bagi para pembacanya, agar makin banyak referensi tentang persepsi pernikahan itu sendiri.

Pesta

Dewasa ini makin banyak orang yang terang-terangan menyatakan dirinya tidak akan menikah, dengan pede-nya mereka berkata itu adalah HAK individu dan merasa bahwa ia bisa berdiri sendiri (independent). Padahal jika merujuk pada Hadist Rasulullah, “orang yang tidak melaksanakan sunah-ku (menikah) maka ia bukan umat-ku.” Walah, tidak dianggap sama sahabat aja udah sakit hati.. gimana kalau tidak dianggep sama Rasulullah? Sedih banget..

Kembali ke anggapan menikah dewasa ini. Secara tradisi, pernikahan merupakan ajang syukuran yang dihelat cukup besar dengan tradisi yang bervariasi. Maka tidak heran banyak yang habis-habisan merayakan pesta pernikahan hingga ratusan juta, bahkan ada juga yang berhutang, padahal dengan dana seperti itu banyak yang dapat dilakukan contohnya sumbangan sosial ke sebuah yayasan.

Maka wajar saja, jika seseorang ingin menikah.. maka persiapannya bisa bertahun-tahun. Akibat merasa “belum mampu” untuk menikah, namun sudah saling suka-cinta atau jatuh hati dengan seorang wanita/pria, akibatnya alasan untuk “penjajakan” makin kuat, dan pacaran menjadi seolah solusi bagi kedua insan tersebut.

Ini yang banyak terjadi di budaya sekarang ini, terjerumusnya seseorang pada perilaku pacaran sebenarnya menjadikan seorang pribadi lemah dalam hal komitmen. Bagaimana tidak? Seseorang yang belum berhak menyentuh, berkata manis, atau bahkan pergi bersama berhari-hari (tentu akan menginap bersama), sudah bisa melakukannya tanpa komitmen “pernikahan”? Hubungan seperti suami dan istri bahkan tanpa malu-malu dilakukan walau baru berstatus pacaran??!!! Ini benar-benar kemerosotan sikap berkomitmennya seorang lelaki. Karena tidak adanya komitmen, maka si lelaki dengan bebas bisa datang dan pergi sesukanya, tanpa kewajiban menafkahi, membimbing, mengajarkan, dll. Maka banyaknya kasus bunuh diri karena ditinggal pacar, stress. hilang ingatan, dan lain-lain jangan kita heran.

Status pacaran juga sebenarnya saya kritisi, status ini adalah terbukti ILLEGAL. Karena di dalam KTP, SIM dan surat-surat sah ke-negaraan lainnya hanya mencantum status PERJAKA/ PERAWAN dan MENIKAH/ KAWIN. Maka dari fakta diatas, seseorang yang mengaku berstatus pacaran berhak di-”aman”-kan oleh yang berwajib. (hehe..😀 .red)

Menikah juga bukan masalah pestanya saja, tapi yang lebih penting adalah akad dari pernikahan tersebut. Apakah rukun-rukunnya terpenuhi? ada saksi, penghulu/ ustadz, mahar dan ijab-qabul. Jangan sampai mengatur pesta sedemikian rupa, tapi rukun-rukunnya ditinggalkan.

Tidak perlu menunggu modal dulu untuk menikah, kalau kata Rangga Umara pemilik restoran Lele Lela (@RanggaUmara): “Menikah nunggu modal? Ini mau nikah atau mau buka usaha?”. Bahkan di jaman Rasulullah, ada budak yang tidak bisa menyediakan mahar sepeserpun, maka Rasulullah bertanya kepadanya: “Surat apa saja yang engkau hafal wahai fulan?”, si budak menjawab “Saya hafal surat ini dan itu.”, Rasulullah pun menjawab “Maka jadikanlah hafalanmu itu maharmu.”

Niat

Yang harus dipersiapkan untuk pernikahan adalah niat, untuk meneruskan keturunan kah? Menundukkan pandangan atau syahwat (farj’) kah? Itu perlu menjadi alasan, yang manakah. Dan menurut hadist salah satunya adalah baha’. Apa itu baha’? Ada ulama yang berpendapat baha’ itu adalah kemampuan untuk menggauli istri. Namun yang lebih tepat adalah ditambah dengan, keinginan yang kuat untuk menafkahi, bekerja keras, menjaga dan membimbing keluarga agar selamat akhlak dan keimanannya kepada Allah SWT.

Salah satu niat mulia adalah, jika menikahnya seorang laki-laki atau perempuan untuk mencegah perbuatnnya ke arah yang tercela. Misalnya: Jika seorang laki-laki tidak menikah secepatnya, maka ia khawatir dirinya akan terjerumus dalam perilaku pacaran, kumpul kebo, bahkan ke lembah perzinahan. Maka jika begitu, ia sangat disarankan agar mempercepat pernikahannya, seraya tetap meminta yang terbaik kepada Allah SWT.

Namun bagi saya, niat menikah yang paling dasar seharusnya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, karena dengan pemahaman tersebut, tidak akan terjadi sebuah percek-cokan antara suami dan istri hanya akibat kesalahan kecil. Sehingga apapun masalahnya, semua kembali kepada Allas SWT.

Kebahagiaan Orang Tua

Walau begitu ada satu hal yang wajib kita perhatikan sebagai anak, biar saya kutip sebuah Hadist Rasul yang insya Allah shahih: “Yang paling berhak dari seorang anak adalah Ibunya, sedangkan yang paling berhak atas seorang istri adalah suaminya.” Disitu tersirat sebuah pesan bahwa, sesibuk-sibuknya seorang lelaki/ perempuan yang sudah menikah, maka sang Ibu berhak untuk meminta bantuan apapun kepada mereka. Maka kewajiban untuk membahagiakan orang tua masih berstatus “wajib” walaupun sang anak telah menikah dan memiliki tanggung jawab terhadap keluarga yang ia telah bangun.

Membahagiakan orang tua tentu masih bisa dilakukan setelah kita menikah, dengan memperhatikannya, membantunya, memberikan support moral dan finansial jika dibutuhkan. Karena bagi seorang laki-laki ada 4 perempuan yang menjadi tanggungannya di akhirat kelak, yaitu: Ibunya, Saudara perempuan kandungnya, Istrinya dan anak perempuannya. Maka ketika menikah, bukan berarti tanggung jawabnya berpindah dari sang Ibu menuju san Istri, tapi ia bertambah, begitu juga jika anak dari pasangan tersebut perempuan.

Menurut kakak kelas saya yang sudah menikah, membahagiakan orang tua itu banyak bentuknya.. membuatnya sedih juga banyak. Seseorang dengan pernikahannya bisa juga bentuk untuk membahagiakan orang tua, karena jika dengan pernikahannya itu ia bahagia, maka sang anak pasti akan lebih membahagiakan orang tuanya. Belum lagi dengan pernikahannya, ia jadi memiliki partner untuk sama-sama membahagiakan kedua orang tuanya masing-masing. Karena kerja berdua, tentu lebih mudah dan menyenangkan daripada sendiri.

Pesan-pesan

Bersyukurlah bagi kalian yang telah menikah, dan berniatan untuk menikah. Karena sesuai apa yang saya katakan sebelumnya, ternyata banyak orang-orang yang tidak ingin menikah, atau bahkan menyukai sesama jenis. Karena sebuah keinginan untuk menikah dengan niat beribadah kepada Allah SWT dan menjalankan sunnah-nya, merupakan berkah terindah dari Allah SWT.

best regards,

sangterasing

image source: 1

2 thoughts on “Arti Pernikahan Menurutku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s