Menarik melihat interaksi antar dua generasi yang berbeda, antara seorang cucu dan kakek. Sang kakek selalu senantiasa menjadi anak kecil yang sebaya dengan cucunya, sedangkan si cucu berbeda-beda tipenya… ada yang tetap mempertahankan keluguannya, ada lagi yang mencoba berucap dewasa seperti kakeknya. Mereka berdua saling mencoba untuk membahagiakan masing-masing personal, keadaan yang menyenangkan bagi kedua belah pihak.

Saya rasa seperti itulah rasa kebanyakan orang, sosok kakek yang bisa dibilang terpaut jauh diatas kita bisa menjadi tauladan sekaligus penasehat ulung bagi kehidupan kita. Tanpa rasa dialog yang kita bangun adalah dialog yang “berisi”, entah itu penuh nasehat, cara berperilaku, norma-norma agama, sangat berbeda dengan obrolan biasa dengan teman sebaya.

Paling tidak itulah yang saya rasakan hidup kira-kira > 7 tahun hidup bersama kakek saya (Alm. Haji Mustafa R. Karim). Beliau mungkin orang pertama yang menumbuhkan kesimpatikan saya dengan Islam, karena beliau sudah Haji dan menjadi RT di kawasan rumah saya (tanah abang). Pembawaan beliau sungguh tenang dan berwibawa, sehingga kerap dijadikan tempat berkonsultasi warga terutama saat masih menjabat ketua RT.

Saya masih ingat awal ketertarikan saya kepada Al-Qur’an dipengaruhi kuat oleh beliau. Mengajari satu per satu membaca Iqro, memperkenalkan tajwid, dan hal-hal yang berkenaan dengannya. Karena waktu masih kecil, ya taulaah.. sering nempel-nempel dengan kakek.. nah, seringkali beliau bermuraja’ah sembari merebahkan badan. Disitu saya yang masih kecil memperhatikan bacaannya, mungkin pula disitu tumbuh ketertarikan saya untuk lebih lagi belajar Qur’an.

Kini sudah kira-kira setahun sepeninggal beliau. Karena kegigihannya mengajarkan kebaikan lewat Qur’an, lewat tauladan, lewat keteladanan, lewat kerja keras, bibit yang ditanam pun kini tumbuh. Seluruh anak-anaknya (paman saya) berhasil hingga tahap yang memuaskan, membawa seluruh pesan-pesannya. Pesan kebaikan, pesan kesederhanaan, pesan kegigihan, pesan kerja keras, pesan ketauladanan.

Kini hanya do’a yang bisa kami panjatkan untukmu wahai kakek, semoga engkau disana mendapatkan tempat yang terpuji disisi-Nya, termasuk golongan-golongan ummat Rasulullah yang mengajarkan kebaikan dalam kesabaran, termasuk para da’i-da’i yang mendakwahkan ajaran Islam.

 

“Allahummaghfir lihainaa wa mayyitinaa wa shoghirinaa wa kabiirina wa dzakarinaa wa untsaanaa wa syaahidinaa wa ghooibinaa, Allahumma man ahyaitahu minnaa faahyihi alal iimaan wa man tawaffaitahu minna fatawffahu alal islaam, Allahumma la tahrimna ajrohu wa laa tudhillanaa bakdahu”

 

Ya Allah berilah ampunan untuk orang orang kami yang hidup dan mati, yang muda dan yang tua, yang pria dan yang wanita, yang hadir dan yang tidak, // Ya Allah kepada orang yang Kau hidupkan diantara kami, maka hidupkanlah diatas iman dan kepada yang Kau matikan dari kami, maka matikanlah diatas Islam, // Ya Allah, Janganlah Engkau menjauhkan kami dari pahalanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sesudahnya

Best Regards,

sangterasing

image source: 1, 2

4 thoughts on “Grand-Father

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s