Bulan puasa sudah akan berakhir, duh.. menyesal sekali kita jika menyadari hari-hari puasa kita tidak maksimal mengisinya dengan ibadah, dihabiskan hanya dari rumah makan ke rumah makan, mall ke mall, atau buka bersama di rumah salah satu teman kita. Padahal demi mempersiapkan 11 bulan lainnya dengan hanya waktu sebulan saja, seharusnya umat muslim menggunakan momentum ramadhan ini dengan maksimal sebagai pengokoh iman dan taqwa kepada Allah swt.

“Akan sangat merugi manusia yang ia masih diberi kesempatan hidup di bulan puasa, namun ia tidak mendapat ampunan dari Allah SWT”

Salah satu tanda bahwa umat muslim kebanyakan tidak memaksimalkan ibadah di bulan ramadhannya ialah, masih banyaknya umat muslim yang sulit mengendalikan emosinya alias “Bersabar”, walaupun ia telah berpuasa di bulan ramadhan.

Mengapa hal tersebut jadi parameter berhasil atau tidaknya bulan puasa kita? Bayangkan, saat berpuasa, kita dapat bersabar tidak makan dan minum disiang hari. Lalu mengapa setelah kita membiasakan diri dibulan puasa, kesabaran tersebut tidak kita bawa di keseharian diluar bulan puasa?

Hal ini pula yang saya alami beberapa minggu di awal bulan puasa. Ketika saya sedang menyimpan file proposal di dalam flashdisk saya untuk dapat saya print di percetakan, tiba-tiba flashdisk saya tak terbaca ditempat percetakan tersebut, bahkan minta DIFORMAT! Padahal saya harus mengantar proposal tersebut hari itu juga!

Rasa kesal muncul di dalam diri saya, gemuruh emosi membuncah di dada saya. Saya coba bersabar dan emosi cukup mereda dengan istighfar. Tapi kesal dan emosi tersebut makin meningkat mengingat seluruh file di dalam flashdisk saya akan hilang. Dalam keadaan emosi saya lalu memukul tembok salah satu rumah dibilangan pocin-depok! Hal yang saya tahu sia-sia dan hanya menghasilkan luka di kepalan tangan saya.

Menyadari hal itu saya segera ber-istighfar lagi, semoga puasa saya hari itu tidak hilang nilai pahalanya. Dari situ saya teringat sebuah kalimat seorang ustadz, “Sabar itu ada pada pukulan pertama, ketika cobaan itu hadir pertama kali”. Wah, kalau begitu saya tidak sabar tadi karena ketika cobaan itu hadir saya otomatis memukul tembok tadi.

Akhirnya saya mengetahui, kesabaran ialah rasa ikhlas dan berserah kepada Allah saat ujian itu datang pertama kali, tanpa amarah, emosi atau hal-hal negative lainnya. Maka ketika ingin melihat orang sabar jangan saat ujian sudah lewat masanya, namun lihat saat ia terkena ujian itu pertama kali.

Kata guru ngaji saya, “Batas kesabaran itu, ialah sabar itu sendiri”. Maka dari itu sabar tidaklah terbatas! Bayangkan jika kesabaran Nabi Muhammad saw habis saat kamu kafir Quraisy mencercanya, beliau akan meemrintahkan Jibril untuk membalikkan gunung untuk menimpakannya kepada mereka. Namun apa yang terjadi? Nabi Muhammad memaafkannya.

Maka dari itu jadilah orang-orang yang sabar, terutama jadikanlaj momentum puasa ini semacam kelas atau training dalam bersabar. Sabar terhadap orang lain, bahkan nafsu kita sendiri, sehingga kita dapat menjadi orang-orang yang selalu dijaga dan disertai Rabb kita. *aamiin

“Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang yang sabar.”

best regards,

sangterasing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s