Sudah 2 tahun rasanya melewati masa-masa kampus tercinta Depok (Politeknik Negeri Jakarta). Walau terbilang bukan kampus yang dulu semasa SMA diidam-idamkan para siswa, namun kami cukup beruntung mendapatkan suasana yang sama dengan kampus favorit Universitas Indonesia. Namun tentu kecintaan terhadap kampus ini bukan hanya sekedar karena suasananya, namun karena historis atau sejarahnya.

Saya masih ingat, bagaimana dulu ketika masuk ke kampus PNJ, kami disuguhkan dengan nuansa yang menyejukkan, yaitu nuansa Islami. Ribuan mahasiswa baru, berkepala plontos, berbadan bau, sesak memenuhi ruang tengah Masjid Darul Ilmi untuk mengikuti kajian yang diadakan oleh kakak-kakak Fikri.

Hal teresbut menjadi pondasi yang luar biasa kuat bagi saya dan kawan-kawan disana. Suasana ibadah yang kental, didorong juga dengan masukan serta bimbingan kakak-kakak FIkri.

Ya.. 2 tahun telah terlewat, hanya dua tahun, tapi rasanya saya sudah rindu sekali suasana tilawah sembari menyender di pilar Masjid Da’im sehabis shalat fardu berjamaah. Atau suasana kontrakan yang penuh dengan target-target ukhrawi seperti ‘one day-one juz’, Qiyamul-lail, mabit bersama kawan-kawan Fikri, menghapal qur’an.

Namun apa 2 tahun itu cukup menghilangkan rasa manis beribadah dahulu? Jawabannya BISA! Kenapa saya bisa katakan itu, karena saya mengalaminya. Kebiasaan yang dahulu, target-target ukhrawi, semua itu seakan meredup 2 tahun pasca kampus, atau tepatnya dunia kerja.

Begitu banyak intrik dan interaksi yang saya alami, hingga memudarkan ‘sibgah’ iman yang dulu saya dapat di masa kuliah.

Tapi disela-sela itu, saya kadang tercengan, malu dan kalau bisa menutup muka mengingat dulu kegiatanku. Ternyata beberapa teman kantorku yang saya tahu tidak berlatar ADK, mampu bersemangat untk shaun sunnah. Ya, hanya shaum sunnah, sedang hal itu sudah bisa membuatku berkaca diri dan bertanya, ‘Bagaimana shaum sunnahku?’

Atau ketika saya terjun di komunitas, ada seseorang yang baru ikut, yang saya tau tak berlatar belakang ADK atau aktivis lainnya, namun bersemangat dalam hal ibadah sunnah, mengejar target tilawah dan semua itu ia lakukan dengan ikhlas, fun dan bersemangat.

Agaknya hal-hal tersebut bisa menjadi teguran halus Allah kepada saya, mengenali mereka lewat keimanan dan ukhuwah, mengembalikan semangat dakwah dan ibadah dalam diri dan kita semua.
🙂

best regards,

sangterasing

4 thoughts on “Aku Malu sama Mereka… sama Allah

  1. iya, sedih juga liat beberapa temen yg semangat banget dakwahnya di kampus, udah di luar kampus malah loyo. ada juga yg berbalik nyalah2in dakwah. ya-ellahhhh :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s