Mendekati pemilu semua pihak berebut menjadi pemimpin, dari kalangan politisi, professional, bahkan artis😀

Yang jadi pertanyaan, apakah mudah jadi Pemimpin?
Berbagai seminar, workshop bahkan kalau perlu diadakan tutorial untuk “Menjadi Pemimpin”, yang kalau bahasa kerennya “Be a Leader”!

leader

Mengapa diksusi pemimpin menjadi sangat menarik dewasa ini? Terutama dikalangan muda Indonesia? Mungkin karena memang membahas sebuah kepemimpinan bukanlah hal yang mudah. Siapa yang dapat dengan mudah meniru gaya kepemimpinan Bung Karno? Bung Tomo? Laksamana Cheng Ho? Abraham Lincoln? Rasanya lewat ribuan workshop atau seminar takkan bisa.

Lantas bagaimana pemimpin bisa hadir jika sulit untuk membahasnya? Saya beritahu, bahkan para pemimpin TIDAK lahir lewat seminar ataupun workshop tersebut. Ia lahir lewat keprihatinan dirinya terhadap kondisi sekitarnya, yang lalu dijadikan bahan bakar tenaga dalam berkontribusi.

Bahkan Nabi Muhammad saw, walau ditugaskan Allah menjadi Rasul, diperlukan rasa kepedulian yang tinggi untuk mengemban dan menerima tugas dariNya. Bukan sembarang tugas yang diemban, ia tugas yang langsung diturunkan dari Ilahi Rabbi.

Lantas, melihat para caleg, capres, cawapres, dan semacamnya yang berusaha (bahkan berebut) untuk “Being a Leader”menjadi sebuah pertanyaan bagi saya. “Mudahkah bagi mereka untuk menjadi pemimpin? Sehingga gelar pemimpin jadi rebutan bak mahkota?”, rasanya ia jadi pertanyaan semua orang.

Lalu bagaimana sebagai masyarakat demokrasi kita mengambil sikap? Izinkan saya mengutip ucapan dari tokoh terdahulu:

“A vote is like a rifle: its usefulness depends upon the character of the user.” – Theodore Roosevelt

“Your Vote” (Pilihanmu) bak senapan, ia dapat berguna tergantung siapa pemakainya”, dengan begitu GUNAKANLAH senapan itu. Yaitu dengan memilih orang-orang yang benar-benar kompeten.

Bagaimana melihat caleg atau parpol yang kompeten? Hmmm… sebelumnya memang nggak terlalu enak ya mengucap (bahkan menulis) partai/ parpol. Mengapa? Karena stigma “maen curang, korupsi, intrik” melekat disana.

Akibat siapa? 1) Pelakunya/ politisinya, 2) Medianya yg menggoreng. Padahal, parpol sejatinya ialah instrumen demokrasi yang kita bangga-banggakan bersama.. maka lucu jika kita menolak parpol.

“Partai politik adalah salah satu pilar demokrasi di Indonesia yang merupakan salah satu elemen kekuatan bangsa dan negara” – Wabup H Alfedri

Tugas masyarakat sebenarnya hanyalah MEMILIH, laah.. memilih aja kok susah. Lucunya lagi, ndak milih tapi nyaring komentarnya. Sama seperti penonton bola yang marah-marah ‘striker’ klub bolanya nggak berhasil-berhasil membobol gawang lawan, padahal kalau sebel tinggal ‘pencet’ tombol OFF di remote.

Memilih yang gimana? Tentu yang bersih, terbukti kinerjanya, ndak korup dan baik teladannya. Tapi tugas “memilih” ternyata susah ya, soalnya banyak juga yang ndak mau milih.

Maka, menuju pileg 9 April nanti, matang-matanglah memilih.. lihat track record dan pembuktian dari parpol atau caleg tersebut. Walau tak bisa dipungkiri faktor “pamor” atau popularitas cukup menjanjikan.

Sediakanlah waktu sehari-dua hari searching di mbah Google siapa parpol yang telah bekerja baik-siapa yang tukang korup uang rakyat, siapa yang dekat dengan masyarakat-siapa yang sombong ogah ikut susah, siapa yang sibuk mencari solusi-siapa yang hanya bisa menyalahkan lawan politiknya.

Selamat berjuang para pejuang hukum di panggung politik, dan selamat “Menikmati Demokrasi” bagi para penikmatnya.🙂

 

best regards,

sangterasing

 

image source: 1, 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s