Selimut Nenek dari Singapura

Kemarin, tepatnya Jum’at malam saat saya mulai berangkat ke Lampung dari Gambir pukul 12.00 malam (Seharusnya bisa berangkat jam 10 malam, tapi karena DAMRI delay **damri pun delay, meh** jadi molor), ada kejadian yang cukup menyentuh diatas DAMRI yang saya dan keluarga tumpangi.

Jadi-kira-kira 20 menit setelah DAMRI berangkat, AC pun mulai terasa sangat dingin. Ya walaupun hanya kebagian DAMRI type Bisnis (FYI; ada 3 type, yaitu Royal Class, Eksekutif & Bisnis), namun kenyamanan cukup bagi yang akan bepergian selama 6 jam lebih. Otomatis saya dan istri segera mengobrak-abrik tas mencari selimut buat ‘Si Babang’ Haifan yang masih kecil. Walau wajah ‘unyu-nya’ mengisyaratkan ia sudah nyaman tidur, namun tetap sebagai orang tua kami tak ingin ia terganggu sehingga membuat kami berusaha menyelimutinya.

**flash-back beberapa menit sebelumnya**

Oh iya, sebelum kejadian diatas.. ketika baru naik, ada seorang nenek-nenek yang duduk pas disisi saya. Karena nenek tersebut dan saya hanya dipisahkan oleh jalan ditengah BUS, maka aktivitasnya otomatis dapat saya amati. Melihat sekilas, nenek tersebut saya nilai cukup ‘gaul’. Gak percaya? Sesering apa anda melihat nenek kurus keriput, dengan topi snap-back, lalu celana pendek ala orang rumahan dan jaket hoodie?

Saya lihat beberapa kali nenek itu menelpon seseorang yang saya taksir ialah anak atau cucunya.

“Iya, gakpapa. Udah bawa penghangat kok, ada nih satu.. selimut yang tak beli di Singapur”, ucapnya santai.

Dalam hati, ‘Mungkin dulu ini nenek tipikal cewe tomboi ya’.

**lanjut waktu normal**

Setelah dirogoh-rogoh, ternyata selimut ada di paling bawah Tas. Karena tas kami cukup besar, isinya pun bertumpuk, maka agak sulit mengambilnya.

Tak diduga-duga, seorang nenek disebelah saya tiba-tiba menyerahkan sesuatu. Bus yang agak gelap karena lampu dimatikan, membuat saya perlu memfokuskan mata kearah barang yang diserahkannya.

“Ini, pake selimut saya aja. Itu buat adeknya, nanti kedinginan”

Walah! Ternyata itu selimut dari Singapur miliknya. Selimut yang rencananya akan digunakan untuk menyelimuti tubuh kurusnya, dengan senyum dan lembut ia berikan kepada saya untuk ‘Si Babang’.

“Waduh, ndak usah bu. Ini ada, mau diambil”

“Ndak papa, sudah pakai saja”

Katanya pemberian tulus seseorang itu datangnya dari Allah, jadi ‘pamali’ kalau nolak. Alhasil saya ambil ‘Selimut Singapur’ itu dan saya selimutkan ke ‘Babang’ Haifan.

Berkali-kali sepanjang jalan saya tawarkan untuk mengambil kembali selimutnya, namun berkali-kali juga nenek kurus itu menolaknya. Hingga saya menyerah.

‘Akibat’ selimutnya diberikan, nenek itu pun hanya diselimuti sepasang handuk olah raga. Tau ya, besarnya handuk itu seperti apa.. kecil sob, tapi beliau tetap nyaman.

Dan ketika itu saya sadari, kehangatan si nenek malam itu bukan bersumber dari 2 helai handuk kecilnya.. namun ia bersumber dari dalam hatinya, akibat bara kebahagiaan karena disempatkan untuk berbagi walau hanya sepotong ‘Selimut dari Singapura’.

best regards,

sangterasing
@Just_Riant

 

 

Dokumentasi: Di atas Feri menuju Pelabuhan Lampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s