Pernah dengar kisah Klasik “David vs Goliath”? Itu adalah kisah dari Eropa tentang bagaimana David yang kecil (entah dari fisik atau kedudukan yang lemah) bisa berhasil mengalahkan Goliath yang sangat Besar (juga entah dari fisik atau kedudukan yang kuat). Kisah ini banyak dikisahkan lewat versi yang beragam tergantung agama apa yang menceritakannya.

Dalam Islam kisah ini terangkum dalam Al-Qur’an, dalam agama Yahudi juga ada dan begitu pula Nasrani. Beberapa mengatakan bahwa kisah ini merupakan kisah Nabi Daud melawan kepemimpinan yang zalim dikala itu.

Namun apapun versi yang kita baca, pada dasarnya kisah tersebut menceritakan bahwa seorang yang kecil (David/ Nabi Daud) namun memiliki kebenaran, akan menang melawan seorang yang besar (Goliath/ Pemimpin Zalim) karena orang tersebut membawa misi kejahatan.

David vs Goliath Ornamen
sumber: enemyofdebt.com

 

Namun tampaknya makin ke sini David makin mudah memenangkan pertarungan. Ini merupakan kemajuan suatu jaman, dimana orang-orang mulai nampak lebih mementingkan kebenaran suatu nilai tanpa melihat kecilnya orang tersebut.

Ambil contoh saja sebuah kisah yang baru-baru ini terjadi diujung Benua sana. Kisah menginspirasi sekaligus mengharukan dari seorang bocah Muslim yang mengundang simpati Dunia, mulai dari Zuck front-man dari Facebook, Tim Google, hingga President Obama.

Ya! Siapa lagi orang tadi kalau bukan Ahmed Mohammed, bocah kecil Muslim yang dilaporkan gurunya saat sedang memamerkan Prakaryanya yang berupa Jam Digital (yang sayangnya) berbentuk koper. Sang guru menganggap prakarya jam digitalnya tersebut adalah sebuah Bom yang berdetik!

Anehnya, setelah dijelaskan kalau itu adalah prakarya sang guru dan polisi tetap berpendapat bahwa itu adalah ‘False Bomb’ atau Bomb bo’ongan yang membuat sang guru merasa terancam. (duh)

Ada lagi dari belahan bumi Australia dimana seorang muslimah dibela hak-haknya memakai jilbab di subway oleh seorang warga Australia yang tidak dikenalnya. Hal itu dilakukan lantaran ada seorang nenek-nenek menghina muslimah tersebut lantaran jilbabnya yang menandakan dukungannya terhadap terorisme dan pedophilia.

Dan saya yakin masih banyak lagi kisah lainnya dimana seorang David (seseorang yang lemah) dapat menang dengan “mudah” lantaran dukungan dari orang-orang baik di social-media. Pembelaan seorang negro yang diperlakukan secara rasis, atau perempuan lemah yang dibully dan peristiwa semacamnya.

This is a Good Thing! But…

(Ini Hal yang Baik! Tetapi…)

Lantaran behaviour tadi sudah banyak terjadi, maka sudah tentu jadi bahan perbincangan analisa para pakar komunikasi (social-media) yang sudah mulai bermunculan (dan nantinya ajuin proposal ke para pemangku jabatan, buat campaign…).

Dan ini hal yang menarik…

Dizaman keterbukaan informasi, semua orang bisa mengakses berita dari manapun. Tak hanya itu, mereka bahkan bisa merespon dengan cara yang luar biasa si social-media dengan terkadang memasukkan opini mereka masing-masing. Dan…

Semua orang Mau Jadi (dianggap) Baik!

Maka ketika ada persona yang dizalimi suatu pihak, kita (kita aja ya, soalnya saya juga ikutan) bakalan rame-rame pasang badan membelanya… di social-media. Betul bukan? Paling tidak itu tanda kita telah menjadi baik, sehingga membela yang baik dan berada di pihak yang baik.

Level berikutnya setelah pasang badan di socmed yaitu bikin petisi online, yang dimana orang lain tinggal Login dan VOTE! Done! Lalu segera merasa berhak dapet medali kemanusiaan.

Well, semua itu gak salah. Bahkan baik! Siapa yang bakalan tau agresi Israel ke Gaza kalo nggak dari orang-orang diatas, netizen yang berada di pihak yang baik. Atau kejadian diskriminasi Jilbab di Bali, atau yang terakhir wartawan tiongkok yang diteriakin “Dasar Cina B*bi!” pada saat Demonstrasti protes di Malaysia.

Tapi sayangnya, saya jadi tau pola yang sengaja ditiru ataupun tidak sengaja ditiru oleh pemangku jabatan lokal. Framing lewat berbagai berita dan segera menjadi David dengan musuhnya yang tangguh Goliath.

framing
sumber: platformmagazine.org

Alih-alih jadi David beneran yang susah payah lawan si Goliath, ini malah gampang bener lawan (yang dicitrakan) sebagai Goliath. Entah si David yang satu ini memang jago, atau dia yang malah Goliath berbulu David (nah loo..).

“There’s Some Power…”

“I’ve been Surrounded by…”

“We’re fighting Corruption by…”

Itu beberapa punchline yang sering diungkap para David-david tersebut.

Lalu netizen yang baik ramai-ramai berada disampingnya, para netizen malang yang jadi korban analisa konsultan pakar socmed.

Agaknya mulai sekarang kita (kita lagi, karena sama saya) harus mulai paham bagaimana polanya. Ketahui David-david yang sebenarnya.. dan berada di sisi kebenaran sebetulnya.

Jangan sampai David kita menangis dibalik bulu Goliath sambil berkata, “I’m David, hu..hu..hu..”

2 thoughts on “David (goliath) VS Goliath (david)

  1. setuju ya. dewasa ini memang kita sering banget ngeliat fenomena tersebut.
    saya ngerasa lucu aja sih sebenarnya, ketika kita (saya juga sama) beramai ramai heboh sok sok ngebela sesuatu di sosmed, namun mungkin dalam kehidupan nyata yang ofline yang tidak dicitrakan dan diumbar di hingga ke seluruh dunia, kita nyatanya adalah Goliath itu sendiri.

    Like

    1. Saya pribadi sekarang lebih ngebela yang jelas perlu dibela, kayak rakyat kecil dll. Kadang ngebela tokoh, kita gak tau sebenernya gimana. Walaupun kebijakan yang pro-rakyat harus tetap didukung dengan pengawasan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s