Beberapa bulan lalu saya mendapatkan share post di newsfeed saya di Facebook. Postingan tersebut dibagikan oleh Fanpages “Muslim Vibe” portal berita online yang sedang naik daun karena mengangkat berita-berita viral tentang dunia Muslim.

Saya analisa kemungkinan mereka mengikuti gaya bahasa penulisan judul UpWhorty, sebuah portal online tentang kemanusiaan di luar negeri.

Postingan tersebut berjudul: A lesson Muslims could learn from Louis Vuitton

Melihat judul yang unik memancing saya untuk klik postingan tersebut. Artikel didalamnya tentang kaitan brand dan bagaimana Islam dijadikan representasi sebuah brand.

“Brand” atau jika dipermudah bahasanya adalah “merk”, jadi perhatian khusus beberapa tahun ini. Berbagai ilmu branding diperkenalkan sebagai startegi turunan baru dari marketing atau pemasaran bisnis.

Seperti pada tulisan The Muslim Vibe tersebut, Louis Vuitton merupakan brand fashion ternama yang tidak sembarangan memproduksi suatu barang. Mereka sangat menjaga kualitasnya serta kuantitas produksinya agar value dari sebuah produk tidah “jatuh” di pasaran.

Maka membakar sisa kelebihan produksi mereka (yang tidak laku terjual) jadi pilihan yang harus ditempuh. Maka mungkin anda akan bertanya-tanya: “Kenapa dibakar? Mending buat Gue atau diberikan ke Orang yang Tidak Mampu!”

Izinkan saya mengutip beberapa kalimat di artikel tersebut:

At the end of every season, Louis Vuitton burns their extra stock. This might seem incredibly wasteful and unnecessary but it allows the company to control their brand’s image. The only way to have a Louis Vuitton anything is to purchase it with your enormous piles of wealth. If we saw the homeless person strutting around downtown with the latest Louis, the value of their products would decrease dramatically.

Yes! Sudah mengerti?

Mereka melakukan hal tersebut (membakar sisa kelebihan produksi) jadi pilihan yang sangat-sangat masuk akal! Bayangkan jika ternyata produk mereka dibagikan ke homeless people, lalu masyarakat ‘sosialita’ Amerika melihatnya.

Saya yakin brand value dari Louis Vuitton akan jatuh!

“Gengsi dong, masa’ tas gue yang puluhan juta gue liat ada di tangan pengemis..”

Ini berkaitan betul dengan letak Islam sebagai brand. Saat umat muslim meng-klaim bahwa agama mereka adalah agama yang mengajarkan kebaikan, kebenaran dan memperhatikan sisi sosial di masyarakat, sedangkan di belahan Dunia lain ada kelompok yang mengaku-aku sebagai representasi “Muslim” melakukan tindakan sebaliknya, bagaimana masyarakat akan percaya?

Jika berkaca pada strategi brand diatas, lantas apa strategi Louis Vuitton tersebut bisa diterapkan?

Dengan membumi-hanguskan orang-orang yang tidak benar-benar merepresentasikan Islam? Bukan begitu Islam bekerja.

Ia adalah agama Samawi yang turun dari langit, ada aturan langit yang perlu diterapkan disini. Umat muslim tidak bisa mengontrol bagaimana umat muslim lain di Dunia ini menerapkan ajaran Islam, karena setiap manusia punya pola pikir yang berbeda, tergantung bagaimana masyarakat, orang tua, teman terdekat hingga media membentuknya.

Maka siapa yang dapat mengontrol bagaimana brand Islam dikenal masyarakat Dunia?

Jawabannya adalah: “KITA SENDIRI!”

(Bersambung ke Bersambung ke Bag. 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s