Sebenarnya, tulisan ini sudah lebih dulu keluar di Facebook.

Tapi bentuknya bukanlah status atau postingan foto, bentuknya adalah sebuah kometar pada pernyataan sikap Bung Anies yang cukup kontroversial (melihat banyaknya komentar yang kontra) karena menanggapi Pidato dari Pak Basuki Tjahya Purnama di kepuluan seribu.

Jika kamu belum pernah melihat status beliau (bung Anies), dibawah ini saya attach status beliau.

..dan dibawah ini, adalah komentar dari saya yang (paling tidak) membantu meng-‘adem’-kan status beliau dari hujatan kepadanya.


Pak Anies, saya salah satu orang yang mengagumi bapak ketika mendengar degup jantung para relawan bapak yang berjibaku berjuang di Indonesia Mengajar & Kelas Inspirasi.

‘Brand’ bapak adalah seorang pendidik, edukator, dan bagian dari intelektual Indonesia yang bersemangat memajukan pendidikan.

Memang, diakui iklim politik Indonesia ini lucu.. seseorang baik dari kubu satu dan kubu satunya merasa tidak boleh ada perubahan kubu, harus langgeng, padahal yang namanya politik & demokrasi itu cair, fluid, semuanya demi kepentingan bangsa & negara.

Sebenarnya saya sendiri muak dengan kebisingan Pilkada DKI ini, muak dengan teriakan dari kanan maupun kiri, seolah-olah tidak ada cara yang lebih baik daripada semua itu, seperti berdialog dengan hati.

Untungnya, sekarang saya sebenarnya tak berkepentingan, karena warga diluar Jakarta. (silahkan BULLY para “bulliers”! Sampek puasshh! :v )

Tapi menarik untuk menanggapi riuhnya iklim DEMOKRASI di jakarta.

:: TANGGAPAN TENTANG VIDEO

Saya sudah liat full (paling tidak lebih daripada video yang di cut) video dari pak Gubernur tersebur, garis besar adalah arahan untuk koperasi di kepulauan seribu.

Tapi ada yang mengusik saya, ini adalah hal yang mencerminkan masyarakat indonesia kebanyakan.

Yaitu kebiasaan celetuk-menceletuk, sindir-menyindir, hal itu yang tercermin pada menit-menit saat kalimat “Al-Maidah 51” itu terucap.

Apa esensi dari celetukan atau sindiran yang Pak Gub keluarkan dalam konteks pengarahan di kepulauan seribu tersebut?

Apa kaitannya antara kalimat Al-Maidah tersebut, dengan seluruh arahan dan penjelasan Pak Gub? Kenapa harus dikeluarkan kalimat tersebut?

Maka saya setuju dengan statement Bung Anies diatas, “tidak relevan dan tidak tepat”!

Untuk apa? Apa maksudnya?

Tidak masuk nalar saya, disaat suasana keruh seperti ini kok ya dikeluarkan kalimat tersebut?

Apa niatan Pak Gub? Apa niatannya membalas orang-orang yang meneriakan beliau “Kafir”?

JIKA IYA.. APA BEDANYA BELIAU DENGAN MEREKA-MEREKA ITU?

Padahal dengan datangnya Bung Anies-Uno, Agus-Silvy, iklim demokrasi Jakarta jadi sejuk-sesejuk punggung bukit di saat pagi.

Jikalau memang niatan beliau tidak menghina, lalu apa niatannya?

Celetuk-mencelutk, sindir-menyindir, adalah budaya “menghina secara tak langsung”. Efektif memang dalam memuaskan ‘dahaga kekesalan’.

MAKA, STATEMENT BAPAK TENTANG “tidak relevan dan tidak tepat” ADALAH BENAR.

:: ANTARA KATA “PAKAI” & “SAMA”

Ini yang menurut saya PALING LUCU, kok ya repot-repot amat membahas kata “PAKAI” dan “SAMA”.

Cukup lihat saja konteksnya, apa dengan pidato yang cepat dan spontan itu Pak Gub memikirkan perbedaan kata “PAKAI” dan “SAMA”?

Menurut saya, mau kata itu diganti-ganti.. Pak Gub tetap punya niatan yang SAMA. Yaitu MENYINDIR orang-orang yang BERLAWANAN dengan beliau.

Dan sebagai pemimpin sekali lagi itu TIDAK BIJAK dan TIDAK SENSITIF.

Coba pikirkan, kalau kita makan DAGING, apakah bijak jika berada di komunitas VEGETARIAN bilang Bodoh jika takut makan daging?

:: LALU APAKAH PENGHINAAN?

Saya sepenuhnya menyerahkan ke kepolisian RI beserta kebijaksanaan mereka.

Tapi, yang pasti Umat Muslim di Indonesia tersakiti dengan perkataan beliau.

..dan saya pribadi bingung dengan yang mati-matian berdebat itu penghinaan atau bukan..

Karena, bagi saya yang terpenting, kalimat tersebut bernada merendahkan penganut Agama Islam di Indonesia… baik itu sebuah PENGHINAAN atau TIDAK.

Indonesia khususnya Jakarta perlu pemimpin yang BIJAK dan TIDAK ASAL-ASALAN. Pemimpin yang bisa cair di golongan manapun dengan SENI KEPEMIMPINAN mereka, serta KEBIJAKSANAAN dalam merawat apa yang keluar dari mulut mereka.

Semoga Bung ANIES jadi JAWABAN alternatif lain dari KEPEMIMPINAN di DKI Jakarta.


Selesai, semoga bermanfaat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s