Mencari Pemimpin (bukan presiden) Indonesia

Mencari Pemimpin (bukan presiden) Indonesia

9 April sudah lewat beberapa hari, namun ‘gerah’-nya masih terasa.

C1 direbut dibumi Bima, kaca pecah berserakan untung nyawa masih terjaga. Coblos massal dibawah umur tak tertahan di bumi Nias, karna duit 100-200 ribu jadi Tuhan baru.

Siapa yang tak perduli dengan pemilu ini?

Dari kaum pragmatis-realistis “yang penting praktis”, hingga dukun sakti berbau klenik.

Dari kaum borjuis penuh syahwat duniawi, hingga kaum religius kumpulan para Da’i.

Dari kaum buruh bermandikan peluh, hingga kaum elit yang kebanyakan pelit!

Ya, semua punya kehendak dan kepentingan. Karena rakyat telah teriak dimana-mana. Mencari pemimpin yang tak hanya pandai berlenggok dilayar kaca, tapi yang tangguh menghadapi ‘bencana’.

pejabat-di-daerah-banjir
img: antaranews.com

Tak perlulah banyak pemimpin yang pandai blusuk lalu masuk got.. atau pandai berkuda dengan kibar bendera.. atau yang berorasi kumpulkan massa di GBK.

Hanya perlu satu, pemimpin yang ro’is.
Iyaitu yang matanya dapat dengan jeli melihat apa yang terbaik bagi masyarakat.

.. yang telinganya dapat dengan mudah mendengar keluh-kesah para nelayan dan petani.

.. yang mulutnya baik tak menyakiti rakyatnya karena menyusahkan, miskin dan bau pesing.

.. yang otaknya sibuk siang-malam berpikir untuk rakyatnya, tak sempat memikirkan dirinya.

Hanya itu, tak lebih..

Karna kita lelah dengan pencitraan, lelah dengan janji, lelah dengan figuritas.

Atau mungkin boleh satu lagu tambahanku, iyaitu yang dekat dengan Rabb-Nya..
..sehingga ia bisa mudah mengadu dikala amanah makin berat, sedang perut pun makin mengecil karna melarat.

best regads,

sangterasing

Cinta Tak Berbuih

Memandang perak berkilau di langit ketujuh, diterpa sinar keemasan mentari yang tak pernah padam.

Begitulah cinta abadi dunia dan akhirat, ia mendamaikan pula menyejukkan.

Menyatukan dua insan tanpa cela, tanpa syarat.

“Kebahagiaan cinta bukan diturunkaan dari langit diatas nampan emas”

Ya, ia butuh usaha dan kerja keras antar keduanya.

Karena cobaan akan terus hadir, ia tetap kan ada menggoda dalam senyap.

**

Menerpa sukma yang kan terus menghias diri dalam fajar.

Menatap setia setiap rona dalam atmosfir yang pernah hadir.

Rasanya baru kemarin atau lusa, tapi mendadak tak terbendung rasa.

Mencoba merasakan setiap buih cinta yang menerpa, tapi tak ada.

**

Kenapa? Ya, karena cinta tak berbuih, ia satu kesatuan yang dibangun dalam dekap & do’a.

Kesatuan utuh antar insan melewati berkah dan izinNya, maka ia kekal.

Maka bersyukurlah yang dapatkan kekal itu, hingga surgaNya.

Maka berdoalah yang mengusahakan kekal itu, hingga ridhoNya tiba.

**

Seakan ia bersih, dalam syukur dan takzim.

Seakan ia suci dari segala prasangka dan dosa.

Maka bersihkan, maka sucikan dengan bismillah dan istighfar.

best regards,

Riant Raafi, yang penuh khilaf — sangterasing

Janji-Nya..

Janji-Nya..

Jika memang kau orangnya, tujuh samudra yang membentang bak got kecil yang cetek meledek.

Jika memang kau orangnya, dua dimensi pun kan menyatu bersatu-padu.

Jika memang kau orangnya, waktu pun kan mengalah.. tertunduk malu melihat hati yang bertemu.

Jika memang kau orangnya..
Allah takkan salah.

Continue reading “Janji-Nya..”

Syukran Ya Ramadhan..

Bergidik merinding menanti subuh, sebagai tanda datangnya Ramadhan..

Rasa itu masih terasa kala petang ini, namun apa daya waktu kan berlalu jua..

***

Rasanya tak rela suasana riang penuh do’a hilang, melangkah pergi tinggalkan jiwa..

Bak sebulan tak cukup, tuk hancurkan rona hitam di hati para manusia..

***

Keramaian dini hari mencari sahur, diiringi ucapan memuji Asma-Nya..

Atau kebahagiaan menunggu buka, tanda kemenangan atas hawa nafsu kita..

***

Kerinduan itu bisa saja muncul hanya beberapa waktu selepas Ramadhan..

Namun ku ragu, rindu itu masih diingat sebulan.. dua bulan selepas Ramadhan..

Terucap syukur atas kesempatan yang masih diberi, melihat.. meratap.. menyepi..

Ada satu, dua, tiga cinta yang hilang.. kerabat dekat dan jauh.. sanak saudara..

***

Merasa benar pergantian nyawa diantara dua Ramadhan.. bersyukur.. bersyukur..

Meratap malu atas karunia yang diberikanNya..

Do’a-do’a yang di’ijabah..

Saudara-saudara baru yang mendekat..

Senyum-sapa yang merekah dari anak-anak fakir..

***

“Syukran Ya Ramadhan”

***

Mungkin itu frase yang cocok, karena Ramadhan kali ini sungguh berbeda..

Berharap getar dada saat tahajud, isak tangis Dhuha masih melekat 11 bulan kedepan..

“Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiya makum…”

met-idul-fitri-1433-H
“Taqobalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum..”

best regards,

Sangterasing and Big Family

😀

Di Kala Senja

Di Kala Senja

Oh Matahari…

Sore ini kau terlihat malu-malu

Warnamu meredup memburam, padahal tadi siang merekah

Apa kau akan pulang?

Mungkin engkau tlah sampai waktu untuk evaluasi

Setelah seharian merekah megah

 ***

Oh Matahari..

Aku sungguh iri

Melihatmu tuk kesekian kali, tuk trus memberi

Apa tak kecapaian?

Walau kau bakar dirimu

Demi milyaran umat manusia

 ***

Oh Matahari..

Kau sungguh popular

Bak Lionel Richie atau Michael Jackson dizamannya

Apa kau senang?

Bahkan timbul sekelompok khilaf, yang menjadikan kau bahan sesembahan

Continue reading “Di Kala Senja”

Do’aku dipenghujung waktu

Do’aku dipenghujung waktu

Kini mari bicara tentang sebuah proses.

Aku pun tercengang setelah mendengar dan melihat.

Tersadar sebuah masa yang akan terlewati.

Namun diri ini belum beranjak dari sebuah keterpurukan.

Tidak meninggalkan jejak gemilang ataupun tauladan yang baik.

***

Inikah kerugian?

atau…

Sebuah proses yang tak terselesaikan dengan baik?

Coba lihat kembali kawan, apa-apa saja ukiran yang telah kau buat.

Siapa saja yang tercerah atas kata-kata manismu.

***

Sungguh diri ini merugi,

Apa kita buta?

atau…

Memang tak perduli?

***

Ya Allah aku khawatir,

Khawatir tentang mereka,

Kami dan diriku.

***

Continue reading “Do’aku dipenghujung waktu”