Charpel Hill Shooting, bentuk kekejaman terhadap 3 insan suci. #CharpelHillShooting #MuslimLiveMatters

Charpel Hill Shooting, bentuk kekejaman terhadap 3 insan suci. #CharpelHillShooting #MuslimLiveMatters

Semalam saya terhenyak mendengar berita 3 muslim AS ditembak dikepala hingga meninggal. #ChapelHillShooting

Ketiga korban ialah Deah Barakat (23) dan sang istri Yusor Abu-Salha (21), serta adik Yusor, Razan (19). #ChapelHillShooting

Berita ini mengejutkan, karena Chapel Hill disebut sebagai daerah yang aman tanpa ada kasus kriminal. #ChapelHillShooting

Continue reading “Charpel Hill Shooting, bentuk kekejaman terhadap 3 insan suci. #CharpelHillShooting #MuslimLiveMatters”

Advertisements

Palestina

Palestina

Di kala Ramadhan, ternyata saudara/i muslim kita di Palestina kembali mendapatkan ujian berat dari Allah swt. Yaitu lewat agresi militer Israel ke tanah Palestina. Maka patutlah bersyukur kita di tanah air yang masih bisa merasakan kedamaian dalam menjalani puasa, bersahur bersama keluarga, serta berbuka dengan makanan yang tak jarang berkelimpahan.

Namun mirisnya, tak jarang saya melihat postingan yang bunyinya seperti ini:

“Palestina-lah yang lebih dulu menyerang!”
“Di Palestina juga ada non muslim!”
“Prajurit Israel juga banyak yang Muslim!”

… yang sejatinya membuat diri mengelus dada, mengapa mereka tak bisa diam saja, karena itu lebih baik jika memang mereka tak setuju.

Continue reading “Palestina”

Pasca Keputusan MK

Pasca Keputusan MK
KMP Gelar Konferensi Pers
KMP Gelar Konferensi Pers

Cukup terkejut dan terkesima dengan ‘Live Conference’ yang dilakukan KMP (Koalisi Merah-Putih) paska pemutusan MK. Terlebih pernyataan sikap itu dibacakan oleh Tantowi Yahya, orang yang pernah dinobatkan sebagai Duta Baca Indonesia tahun 2009.

Penyampaiannya tenang, elegan dan jelas menekankan pada substansi pesan itu sendiri. Saya lebih suka pada orang yang penyampaiannya tenang seperti pak Tantowi ini, atau Julian Aldrin Pasha, atau pula Martin Natalegawa.

Kembali ke isi pernyataan KMP. Bagi saya sikap dari KMP ini cukup keras khususnya pada Presiden terpilih, berikut tim suksesnya. Mengapa? Karena memutuskan berada diluar pemerintahan dengan jumlah koalisi besar, perlu sebuah kesamaan visi yang murni. Kubu PDIP yang 10 tahun menjadi oposisi kini ditantang untuk memimpin Bangsa Indonesia beserta 250juta rakyatnya. Mungkin kira-kira itu pesannya.

Hemat saya, posisi sebagai oposisi ini adalah posisi terbaik bagi yang berpihak kepada Indonesia, dengan catatan niatnya bukan mau ‘ngerecoki’.

Mengapa terbaik? Coba pikirkan, sebagai oposisi dengan koalisi besar.. maka KMP punya bargaining yang kuat terhadap kebijakan-kebijakan eksekutif yang tidak sejalan dengan kepentingan rakyat. Catat! “Kebijakan yang tidak sejalan dengan kepentingan Rakyat”.

Namun jika sebaliknya, apabila kebijakan yang muncul adalah Pro-Rakyat, maka KMP sebagai oposisi bisa tenang.. karena rakyat  jadi yang utama dan Indonesia terselamatkan.

KMP ini mungkin akan jadi ‘Pengawal Kebijakan’ yang efektif, lihat saja.. para punggawa demokrasi berada dibelakangnya, partai-partai pelopor ada disana, kebanyakan telah berpengalaman memegang eksekutif jadi tau mana yang terbaik untuk rakyat (dengan catatan bagi politisi berintegritas), atau minimal berpengalaman.

Menurut saya ini adalah wujud dari ‘Kerjasama Nasional’ demi memajukan Indonesia, yaitu sebagai pengawas.

Analogikanlah pembangunan negara ini seperti project pembangunan gedung. Maka disana ada owner, kontraktor dan juga konsultan pengawas. Maka ibaratkanlah rakyat adalah ‘owner-nya’, Presiden terpilih dan tim adalah ‘kontraktor-nya’ dan KMP sebagai ‘konsultan pengawas-nya. Enak kan? 🙂

Perang Citra

Perang Citra

Dunia kini penyuka citra, siapa yang citranya paling baik maka ialah pemenangnya. Maka tak aneh banyak ilmu-ilmu tentang cara berbicara (Public Speaking), ilmu citra diri (Personal Branding), bahkan hingga menjualnya (Marketing) menjamur, laris manis. Tapi banyak yang gak sadar ‘Citra’ yang baik ialah ‘citra’ yang jujur alias ‘Aseli’.

Contoh paling simple adalah cara dakwah para agen muslim di negri Eropa, kebanyakan saya perhatikan dilakukan didasari dengan ‘Citra’ yang baik (bakti sosial, ‘street dakwah’, sastra & seni, video awarness, dll), sehingga banyak yang tertarik. Karena memang tugas muslim ialah mendakwahkan atau memberi kabar gembira. Tapi perlu diingat harus jujur, murni dan tidak mengada-ada. Contoh yang mengada-ada; Islam menerima LGBT, Jilbab tak wajib, dll.

Maka pelaku ‘citra baik’ di dunia ini akan mendapat tempat dihati masyarakat dunia, bahkan (kalau boleh jujur) apapun agamanya. Tapi yang jadi pertanyaan, berapa dari mereka pelaku ‘citra baik’ yang benar-benar murni sifat dirinya, alias ‘not imposter’?

Maka bagi yang tidak, siap-siap ‘diadili’ korban citra mereka pada batas akhir.

media-spoonfeeding-cartoon

 

best regards,

sangterasing

 

image source: 1

Fakta terbaru: Benarkah Hitler Islam?

Sebuah referensi baru tentang Hitler si “Kejam”

Perjalanan Cinta

Anda pasti mengenal sosok yang bernama Adolf Hitler ini. Dia sering di gadang-gadang sebagai seorang yang bengis dan tidak manusiawi. Tetapi apakah semua itu benar adanya? Benarkah ia tidak lagi memiliki rasa kemanusiaan dan belas kasih? Atau memang ada gerakan dan alasan tertentu, demi tujuan tertentu,  sehingga sang pemimpin besar Nazi ini selalu di pandang jelek di mata dunia?

View original post 1,131 more words

Memilih Pemimpin (Menyambut 9 April)

Memilih Pemimpin (Menyambut 9 April)

Mendekati pemilu semua pihak berebut menjadi pemimpin, dari kalangan politisi, professional, bahkan artis 😀

Yang jadi pertanyaan, apakah mudah jadi Pemimpin?
Berbagai seminar, workshop bahkan kalau perlu diadakan tutorial untuk “Menjadi Pemimpin”, yang kalau bahasa kerennya “Be a Leader”!

leader

Mengapa diksusi pemimpin menjadi sangat menarik dewasa ini? Terutama dikalangan muda Indonesia? Mungkin karena memang membahas sebuah kepemimpinan bukanlah hal yang mudah. Siapa yang dapat dengan mudah meniru gaya kepemimpinan Bung Karno? Bung Tomo? Laksamana Cheng Ho? Abraham Lincoln? Rasanya lewat ribuan workshop atau seminar takkan bisa.

Lantas bagaimana pemimpin bisa hadir jika sulit untuk membahasnya? Saya beritahu, bahkan para pemimpin TIDAK lahir lewat seminar ataupun workshop tersebut. Ia lahir lewat keprihatinan dirinya terhadap kondisi sekitarnya, yang lalu dijadikan bahan bakar tenaga dalam berkontribusi.

Bahkan Nabi Muhammad saw, walau ditugaskan Allah menjadi Rasul, diperlukan rasa kepedulian yang tinggi untuk mengemban dan menerima tugas dariNya. Bukan sembarang tugas yang diemban, ia tugas yang langsung diturunkan dari Ilahi Rabbi.

Lantas, melihat para caleg, capres, cawapres, dan semacamnya yang berusaha (bahkan berebut) untuk “Being a Leader”menjadi sebuah pertanyaan bagi saya. “Mudahkah bagi mereka untuk menjadi pemimpin? Sehingga gelar pemimpin jadi rebutan bak mahkota?”, rasanya ia jadi pertanyaan semua orang.

Lalu bagaimana sebagai masyarakat demokrasi kita mengambil sikap? Izinkan saya mengutip ucapan dari tokoh terdahulu:

“A vote is like a rifle: its usefulness depends upon the character of the user.” – Theodore Roosevelt

“Your Vote” (Pilihanmu) bak senapan, ia dapat berguna tergantung siapa pemakainya”, dengan begitu GUNAKANLAH senapan itu. Yaitu dengan memilih orang-orang yang benar-benar kompeten.

Bagaimana melihat caleg atau parpol yang kompeten? Hmmm… sebelumnya memang nggak terlalu enak ya mengucap (bahkan menulis) partai/ parpol. Mengapa? Karena stigma “maen curang, korupsi, intrik” melekat disana.

Akibat siapa? 1) Pelakunya/ politisinya, 2) Medianya yg menggoreng. Padahal, parpol sejatinya ialah instrumen demokrasi yang kita bangga-banggakan bersama.. maka lucu jika kita menolak parpol.

“Partai politik adalah salah satu pilar demokrasi di Indonesia yang merupakan salah satu elemen kekuatan bangsa dan negara” – Wabup H Alfedri

Tugas masyarakat sebenarnya hanyalah MEMILIH, laah.. memilih aja kok susah. Lucunya lagi, ndak milih tapi nyaring komentarnya. Sama seperti penonton bola yang marah-marah ‘striker’ klub bolanya nggak berhasil-berhasil membobol gawang lawan, padahal kalau sebel tinggal ‘pencet’ tombol OFF di remote.

Memilih yang gimana? Tentu yang bersih, terbukti kinerjanya, ndak korup dan baik teladannya. Tapi tugas “memilih” ternyata susah ya, soalnya banyak juga yang ndak mau milih.

Maka, menuju pileg 9 April nanti, matang-matanglah memilih.. lihat track record dan pembuktian dari parpol atau caleg tersebut. Walau tak bisa dipungkiri faktor “pamor” atau popularitas cukup menjanjikan.

Sediakanlah waktu sehari-dua hari searching di mbah Google siapa parpol yang telah bekerja baik-siapa yang tukang korup uang rakyat, siapa yang dekat dengan masyarakat-siapa yang sombong ogah ikut susah, siapa yang sibuk mencari solusi-siapa yang hanya bisa menyalahkan lawan politiknya.

Selamat berjuang para pejuang hukum di panggung politik, dan selamat “Menikmati Demokrasi” bagi para penikmatnya. 🙂

 

best regards,

sangterasing

 

image source: 1, 2

Lurah Lenteng Agung, haruskah diganti?

Lurah Lenteng Agung, haruskah diganti?

Berpolitik dan bernegara tentu butuh skill komunikasi yang baik, hal ini sudah dipraktekkan bangsa Indonesia dari jaman dahulu.

Para pejuang yang ingin memperjuangkan kemerdekaan lewat diplomasi, tentunya mendelegasikan seseorang yang dapat berbicara Jepang/ Belanda. Lebih lancar lagi jika berkeyakinan sama dengan sang penjajah.

Ini yang rasanya dilewatkan oleh Pemda Jakarta dengan penetapan Lurah Susan yang notabene-nya seorang nasrani, padahal warga Lenteng Agung didominasi oleh umat muslim, terlebih berlatar betawi yang Islamnya kental.

Sehingga terlihat ada kesan ‘pemaksaan’ kepada warga Lenteng Agung, padahal lurah ialah pemimpin warga, lantas bagaimana jika warga menolak patuh?

Aspirasi warga patut didengar jika negara ini mengklaim sebagai negara demokrasi. ‘People Power’ menjadi yang utama, sedang pemerintah ialah ‘abdi’ masyarakatnya. Jika suara rakyat tidak didengar, terbayang apakah revolusi ’98 akan diberangus? Nyatanya tidak, karena disana ‘People Power’ berperan, dan Presiden Seoharto mau tak mau mendengar aspirasi masyarakat yang telah jenuh.

Masih banyak contohnya, seperti penggulingan Mubarok, Khadafi, Saddam Hussein, tidak semasa ‘People Power’ saja, namun ada itikat baik dalam mendengar aspirasi masyarakat.

Sebenarnya masalah ini tak perlu berlarut, pilihannya hanya dua, warga L.A menerima atau pemda Jakarta memindahkan Lurah Susan ke daerah lain (yang mayoritas nasrani misalnya). Jika satu opsi sudah diusahakan namun nihil hasil, maka opsi satu lagilah yang patut jadi solusi, tak perlu ada ego dan ambisi pribadi dai pemda dan pribadi Lurah Susan sendiri.

Karena Indonesia perlu pemimpin dengan pribadi yang bijak akibat kemajemukan masyarakatnya, walau merasa benar tidak perlu dipaksakan, perlu proses pendewasaan lewat pendidikan dan penyuluhan.

“Pemimpin yang berilmu takkan menetapkan suatu kebijakan yang menuai kontroversi dan kerusakan, karena kerusakan tentu menimbulkan perpecahan. Semua tak ingin ada perpecahan bukan?”