Islam dan Brand (Bag.1)

Islam dan Brand (Bag.1)

Beberapa bulan lalu saya mendapatkan share post di newsfeed saya di Facebook. Postingan tersebut dibagikan oleh Fanpages “Muslim Vibe” portal berita online yang sedang naik daun karena mengangkat berita-berita viral tentang dunia Muslim.

Saya analisa kemungkinan mereka mengikuti gaya bahasa penulisan judul UpWhorty, sebuah portal online tentang kemanusiaan di luar negeri.

Postingan tersebut berjudul: A lesson Muslims could learn from Louis Vuitton

Melihat judul yang unik memancing saya untuk klik postingan tersebut. Artikel didalamnya tentang kaitan brand dan bagaimana Islam dijadikan representasi sebuah brand.

Continue reading “Islam dan Brand (Bag.1)”

Tak Apa Menjadi Orang Biasa di Dunia…

Tak Apa Menjadi Orang Biasa di Dunia…

Menjadi yang terbaik memang jadi impian semua orang, namun tidak semua perlu jadi yang terbaik.

Seorang pemenang perlu pihak-pihak yang kalah untuk dapat disebut ‘pemenang’, maka dengan itu.. pihak yang kalah akan dianggap juara oleh sang pemenang.

Lantas apakah dominasi ego pantas didapatkan oleh seorang pemenang? Jawabannay tidak!

Begitu pula pemipin, seorang pemimpin takkan pula jadi pemimpin jika tak ada yang dipimpin (rakyat). Maka dengan itu ‘Pemimpin’ perlu menghormati yang dipimpinnya (rakyat) dengan menjalankan amanah yang diberikan, pun untuk pertanggung-jawabannya kepada Allah kelak.

“Tapi tak perlulah orang ‘berburu’ menjadi yang terbaik, namun wajib seseorang menjadi yang terbaik.”

Lantas apa maksud dari kalimat itu?

Seseorang tak perlu mengejar-ngejar, terobsesi menjadi yang terbaik diantara orang-orang sekitarnya. Ia hanya perlu menjadi yang terbaik bagi dirinya, agar pertanggung-jawabannya kelak bisa ia ambil untuk dihadapkan ke Sang Maha Pencipta.

Banyak yang tak seberapa dimata orang lain, namun ternyata namanya dikenal di seluruh penjuru langit. Salah satunya ialah Uwais Al-Qarni. Ketika seruan Islam masuk ke Yaman, ia langsung terketuk hatinya untuk memeluk kebenaran & keindahan Islam. Ia jatuh cinta terhadap ajaran-ajaran yang diterapkannya.

jambasunsetcamel

Uwais sendiri hanyalah seorang fakir yang tinggal bersama Ibunya yang uzur & sakit. Hanya memakai 2 helai pakaian yang kusut, yang satu sebagai penutup tubuhnya, satunya lagi ia pakai sebagai selendang. Tak ada orang yang menghiraukannya semasa hidup, namun Rasulullah bersabda, “Ia adalah penghuni langit, bukan penghuni bumi.”

Tatkala datang hari kiamat, dan semua ahli ibadah diseru masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu untuk memberi syafa’atnya. Ternyata Allah memberi izin kepadanya untuk memberi syafa’at bagi sejumlah Qabilah Robi’ah dan Mudhor, semua dimasukkan ke surga tak ada yang tertinggal dengan izin-Nya.

Ia pernah berniat untuk bertemu Rasulullah SAW, namun yang ia dapatkan hanyalah Aisyah istri Nabi. Maka ia menitipkan pesan kepada beliau, dan segera kembali kerumahnya sesuai pesan Ibunda.

Sepulang dari berperang, tiba-tiba Rasulullah menanyakan pemuda yang mencarinya. Beliau menjelaskan bahwa pemuda itu adalah anak yang taat kepada Ibunya, ia penghuni langit dan sangat terkenal dilangit. Mendengar pernyataan Rasulullah, Aisyah dan sahabat tertegun, seraya membenarkan bahwa memang ada yang mencarinya.

Rasulullah SAW, pun bersabda: “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Rasulullah S.A.W, memandang kepada sayyidina Ali K.W dan sayyidina Umar R.A dan bersabda:  “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”

Sepeninggalan Rasulullah, ketika masa kekhalifahan dipegang oleh Umar R.A, beliau teringat sabda Nabi. Maka ia mengingatkan Ali bin Abi Thalib untuk mencari bersamanya.

Maka mereka mencari keberadaan Uwais Al Qarni diantara kafilah dagang dari Yaman. Akhirnya Allah pun mengizinkan pertemuan keduanya. Sesuai sabda Nabi, Umar R.A & Ali R.A meminta untuk dibacakan istighfar & didoakan. Awalnya Uwais menolak, atas desakan kedua sahabat akhirnya beliau melakukannya.

Umar yang saat itu menjabat khalifah, berkata akan menyumbangkan dari harta Baitul Mal kepada Uwais. Namun beliau menolak, Uwais pun membalas tawaran tersebut dengan kalimat, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”..

Semenjak itu nama Uwais al Qarni pun tenggelam lagi. Namun pernah ada kisah dari seorang yang pernah dibantu Uwais, ketika itu ia berada diatas kapal yang digoncang oleh angin ribut & badai.

Lalu seketika ada seorang pemuda yang keluar dari kapal dan melakukan shalat diatas air. Penumpang kapal pun menyeru untuk membantunya. Uwais lantas membalas, “Dekatkanlah diri kalian pada Allah!”

Uwais lalu melanjutkan, “Keluarlah kalian daripada kapal dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim!”. Akhirnya 500 penumpang itu keluar dari badai dengan selamat.

Bersyukur kepada Allah para penumpang itu, salah satu dari mereka lalu bertanya, “Wahai pemuda, siapakah namamu?”

“Uwais al Qarni!”, jawab singkatnya.

Maka kisah itu tersebar diseluruh penjuru, hingga tersiar kabar wafatnya Uwais al Qarni. Anehnya, pada saat dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang berebut memandikannya. Begitu pula saat ia dikafankan lalu dikebumikan.

Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “Ketika aku ikut menguruskan jenazahnya hingga aku pulang daripada menghantarkan jenazahnya, lalu aku ingin untuk kembali ke kubur tersebut untuk memberi tanda pada kuburnya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas di kuburnya.” (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qarni pada masa pemerintahan sayyidina Umar R.A.)

Masyarakat Yaman pun terheran-heran, lalu berkata, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanyalah sebagai penggembala?”

“Namun, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.”

Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.

Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qarni.

“Dialah Uwais al-Qarni, tidak terkenal di bumi tapi sangat terkenal di langit.”

AWIS

best regards,

sangterasing

 

source: 1

image source: 1, 2

Aku Malu sama Mereka… sama Allah

Aku Malu sama Mereka… sama Allah

Sudah 2 tahun rasanya melewati masa-masa kampus tercinta Depok (Politeknik Negeri Jakarta). Walau terbilang bukan kampus yang dulu semasa SMA diidam-idamkan para siswa, namun kami cukup beruntung mendapatkan suasana yang sama dengan kampus favorit Universitas Indonesia. Namun tentu kecintaan terhadap kampus ini bukan hanya sekedar karena suasananya, namun karena historis atau sejarahnya.

Saya masih ingat, bagaimana dulu ketika masuk ke kampus PNJ, kami disuguhkan dengan nuansa yang menyejukkan, yaitu nuansa Islami. Ribuan mahasiswa baru, berkepala plontos, berbadan bau, sesak memenuhi ruang tengah Masjid Darul Ilmi untuk mengikuti kajian yang diadakan oleh kakak-kakak Fikri.

Hal teresbut menjadi pondasi yang luar biasa kuat bagi saya dan kawan-kawan disana. Suasana ibadah yang kental, didorong juga dengan masukan serta bimbingan kakak-kakak FIkri.

Ya.. 2 tahun telah terlewat, hanya dua tahun, tapi rasanya saya sudah rindu sekali suasana tilawah sembari menyender di pilar Masjid Da’im sehabis shalat fardu berjamaah. Atau suasana kontrakan yang penuh dengan target-target ukhrawi seperti ‘one day-one juz’, Qiyamul-lail, mabit bersama kawan-kawan Fikri, menghapal qur’an.

Namun apa 2 tahun itu cukup menghilangkan rasa manis beribadah dahulu? Jawabannya BISA! Kenapa saya bisa katakan itu, karena saya mengalaminya. Kebiasaan yang dahulu, target-target ukhrawi, semua itu seakan meredup 2 tahun pasca kampus, atau tepatnya dunia kerja.

Begitu banyak intrik dan interaksi yang saya alami, hingga memudarkan ‘sibgah’ iman yang dulu saya dapat di masa kuliah.

Tapi disela-sela itu, saya kadang tercengan, malu dan kalau bisa menutup muka mengingat dulu kegiatanku. Ternyata beberapa teman kantorku yang saya tahu tidak berlatar ADK, mampu bersemangat untk shaun sunnah. Ya, hanya shaum sunnah, sedang hal itu sudah bisa membuatku berkaca diri dan bertanya, ‘Bagaimana shaum sunnahku?’

Atau ketika saya terjun di komunitas, ada seseorang yang baru ikut, yang saya tau tak berlatar belakang ADK atau aktivis lainnya, namun bersemangat dalam hal ibadah sunnah, mengejar target tilawah dan semua itu ia lakukan dengan ikhlas, fun dan bersemangat.

Agaknya hal-hal tersebut bisa menjadi teguran halus Allah kepada saya, mengenali mereka lewat keimanan dan ukhuwah, mengembalikan semangat dakwah dan ibadah dalam diri dan kita semua.
🙂

best regards,

sangterasing

1 Muharram 1435 H – Bulan Hijrah

1 Muharram 1435 H – Bulan Hijrah

Assalamu’alaikum wr wb. Alhamdulillah kita telah memasuki tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1435. Mari muhasabah diri setahun kemarin, lalu komitmen untuk setahun kedepan 🙂

Tahun baru Hijriyah telah datang, memang bukan berarti apa-apa.. namun merupakan pertanda waktu terus berjalan. Lalu bagaimana dengan kita?

Peredaran waktu merupakan sunatullah yang telah ada, kita sebagai manusia patut terus bermuhasabah diri tentang kualitas hidup, ibadah dan manfaat.

Tahukan pula, bahwa pada malam ini kita umat muslim mengulang potongan sejarah perjuangan Rasulullah dan para sahabat semasa dulu? Malam ini kita mengulang peristiwa Hijrahnya Rasul dan sahabat dari Makkah ke Madinah, dengan jarak yang tak dekat.

Awal mula penanggalan Hijriyah berawal dari inisiatif khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabat menyusun penanggalan tahun sebagai pedoman bagi umat Islam. Sistem kalender Hijriyah berpedoman kepada peredaran bulan mengelilingi bumi, maka dihitung saat terlihatnya bulan. Nama “Hijriyah” diambil dari peristiwa Hijrah Rasulullah semasa kenabian.

Umar ra menetapkan penanggalan kalender Hijriyah karena suatu peristiwa. Diriwayatkan dari Maimun bin mahran ra, suatu hari Umar ra mendapat surat penting. Surat tsb dari seorang sahabat, dan hanya tertera bulan “Sya’ban”. Namun para sahabat bingung, “Bulan sya’ban yang mana yang dimaksud?” Maka Umar ra mengumpulkan sahabat dan merumuskan penanggalan Hijriyah.

Jadi sebenarnya dahulu masyarakat Arab sudah lama memakai nama Muharram, Rabiul Awal, dll. Namun para sahabat belum menggunakan perhitungan tahun, maka tepatnya hari atau tanggal belum ditentukan.

Khalifah UMar ra menetapkan tahun Hijriyah pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun ke-17 Hijriyah (638). Adapun penetapan bulan Maharam sebagai awal tahun Hijriyah, karena pada bula itulah Rasulullah saw bertekad untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Lalu mengapa bulan ini disebut Muharram? Karena pada bulan ini diharamkan berperang atau menumpahkan darah. Tertulis pada QS. 9:36. Peristiwa Hijrah Rasulullah sendiri ada pada firman Allah Al-Anfal: 72-75. Inilah penjelasan paling lengkap tentang peristiwa Hijrah.

Bulan Muharram juga dikenal dengan sebutan ‘asyuro (hari kesepuluh), namun ternyata ini adalah warisan budaya Yahudi yang berpuasa hanya di tanggal 10 Muharram. Orang-orang Yahudi hanya berpuasa hari ke-10 muharram karena meyakini hari itu adalah hari keselamatan Bani Israil zaman Nabi Musa dari kejaran Fir’aun.

Ibnu Abbas mengisahkan dalam sebuah hadist: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’ ( tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya: “Hari apakah ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, ..” maka Musa shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari itu karena syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian”, maka Nabi berpuasa Asyura’ dan memerintah-kan puasanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Akhirnya Rasul memutus tradisi ‘asyuro versi yahudi dan menggantinya dengan puasa pada 9, 10, 11 Muharram untuk menyelisihi kam Yahudi. Ini merupakan ketegasan sikap Rasulullah untuk berbeda dengan kaum yahudi dan bani israil.

Maka sebagai muslim, mari sikapi tahun baru 1 Muharram ini dengan perbaikan individu, izzah sebagai muslim serta muhasabah diri. Semoga Allah memberi kebaikan pada umat Islam di tahun ini, serta keberkahan pada usaha umat Islam dalam kebaikan. Wassalam 🙂

 

best regards,

sangterasing

 

image source: http://www.owhsomuslim.com/osm/wp-content/uploads/2010/12/02-Muharram.jpg

Bulan Ramadhan, Bulannya Berjihad (akal, fisik, jiwa)

Bulan Ramadhan, Bulannya Berjihad (akal, fisik, jiwa)

Alhamdulillah, syukur kepada Allah swt yang masih memberikan kita nikmat berupa kesehatan, kesempatan berkumpul dan kebersamaan, terlebih di bulan Ramadhan yang telah masuk di hari ke-4nya ini. Bulan ini menjadi ajang syi’ar yang luar biasa bagi umat Muslim se-DUNIA, mengapa? Karena seluruh media massa, ataupun bermacam-macam produk “gegap-gempita” menyambutnya dengan berbagai pernak-pernik ramadhan nan cantik.

Tapi masihkah kita mendapatkan esensi Ramadhan yang sesungguhnya? Bulan dimana dahulu setiap “Perjuangan” ada di dalamnya. Apakah itu?

Ialah perang Badar, perang pertama umat islam dan Rasulullah yang terbesar sepanjang hidup Nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai Yaumul Haq atau hari pembeda antara yang benar dan yang batil. Lalu perang Al-Ahzab yang terjadi di bulan Ramadhan pada 5H. Fathul Makkah, ketika Rasulullah menaklukkan Kota Makkah tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Salahudin Al-Ayyubi mengalahkan tentara Salib, yang kita semua bisa saksikan peristiwanya di film Holywood “Kingdom of Heaven”. Dan terakhir ialah bagi bangsa Indonesia, yaitu kemerdekaan Indonesia yang bertepatan pada hari Jum’at di Bulan Ramadhan tahun 1945.

Jika diurai saya yakin banyak sekali peristiwa-peristiwa lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu, namun kesimpulan dari kisah-kisah sejarah tersebut ialah bangsa-bangsa terdahulu menjadikan “momen” Ramadhan sebagai “momen” perjuangan bagi masyarakat di wilayahnya. Momen dimana hati kita sangat dekat dengan Rabb kita, maka merugilah bagi orang-orang yang menganggap biasa Bulan yang Suci ini.

Terlebih lagi pada tahun ini terjadi di Mesir, Suriah, Rohingya, Gaza, dan negara lainnya, bergejolak umat muslim dalam mempertahankan hak-hak dan legitimasinya dalam pemerintahan, wilayah dan hak-haknya menjalankan ibadah puasa serta ibadah lainnya. Di belahan bumi sana, saudara-saudara kita benar-benar berjihad fisik melawan kemungkaran serta pemimpin yang dzalim, mari do’akan untuk mereka agar diberi kemenangan besar oleh Allah swt.

Lalu kita disini? Di Indonesia patut berbuat apa?

Sepatutnya kita terus mengembangkan produktivitas kita sebagai umat Muslim di wilayahnya masing-masing, bulan ini jadi sebuah “momen” untuk menunjukkan sifat “rahmatan lil aalamiin” Islam itu sendiri. Kita (apalagi sebagai pemuda) bisa kontribusi lewat bakti sosial, kajian-kajian tsaqofah Islam, event-event pengembangan diri ataupun kontribusi kecil seperti memberi ta’jil kepada orang yang berpuasa, tukang-tukang dijalan, dll.

Mari, saatnya bergerak membenahi kerja-kerja kita yang terlewatkan. Jadikan momen ini Syahrul Jihad, baik jihad harta, fisik maupun akal lewat artikel-artikel dan tulisan-tulisan do blog kita. Mari sambut Ramadhan, mari sambut bulan yang penuh berkah.

best regards,

sangterasing

image source: 1, 2

source: 1

Rohis, Solusi Para Orang Tua Bagi Anak

Rohis, Solusi Para Orang Tua Bagi Anak

Beberapa tahun yang lalu semasa SMA, saya dihadapkan pada pilihan sulit tentang kegiatan ekstrakulikuler. Karena saya yang semasa SMP tidak pernah ikut eskul apa-apa, mendadak wajib memilih eskul karena diwajibkan sekolah dengan minimal ikut satu ekstrakulikuler. Pada mulanya saya yang minat di dunia seni-musik ingin masuk eskul Band (grup musik), namun ketika bertanya-tanya siapa saja yang ikut, ternyata yang mendaftar adalah “jagoan-jagoan” kawan SMP saya.

Alhasil pupus-lah keinginan mendaftar di eskul Band, membayangkannya saja tak bisa saya bergabung dengan para “jagoan” tersebut. Namun saya mendengar sebuah eskul yang “katanya” santai, gak banyak kegiatan, paling banter cumin ngaji aja, yaitu eskul ROHIS 6 Jakarta. Alhamdulillah cukup menuliskan nama kaka’ kelas dengan tangan terbuka menerima saya dan kawan kami.

Kira-kira itulah cerita saya bertemu dengan dakwah, yap! Lewat kegiatan ekstrakulikuler ROHIS di SMA. Walau media Metro TV sempat memberitahukan bahwa kegiatan keagamaan (rohis) di SMA cikal bakal teroris, tetapi saya tahu betul apa yang kami lakukan ialah tak jauh-jauh daripada kebaikan, pembekalan, bakti sosial, kajian Islam, pengajian, buka puasa bersama, Perayaan Hari Besar, dll.

Bahkan ribuan pelajar SMA yang berduyun-duyun turun ke jalan membela Rohis turun ke jalan pada tanggal 23 September 2012 di Bundaran Hotel Indonesia, pun tahu bahwa Rohis ialah tempat jiwa dan fisik ditempa untuk dapat membawa kebaikan ke penjuru Indonesia, dengan sifat taat kepada orang tua & gurunya, sifat yang aktif dalam setiap kegiatan sosial-akademik (KIR, Karang Taruna, Pramuka, dll), sifat mengajarkan ilmu agama Islam kepada sesama (mentoring, san-lat, rihlah), sifat yang selalu mengedepankan sifat Ikhlas lillahita’ala.

Para orang tua sekarang pasti khawatir dengan pengaruh luar biasa dari media yang mendorong anak-anaknya pada ROKOK, SEX BEBAS, ALKOHOL, NARKOBA, terlihat dari film-film barat yang sering memperlihatkan botol minuman keras, adegan sex yang tak sepatutnya ditonton anak-anak, iklan-iklan rokok yang bertebaran dimana-mana (tidak hanya TV, tapi juga Billboard sepanjang jalan). Namun disamping itu, orang tua juga dihadirkan oleh berita-berita terorisme, radikalisme, yang ujung-ujungnya menyudutkan Islam. Padahal ternyata “terduga” pelaku (yang tentunya telah ditembak mati ditempat) hanyalah seorang guru ngaji, atau tukang cetak spanduk yang rajin beribadah di masjid serta beramal saleh. Tapi karena sudah kadung ditembak mati, yaa.. mau apa lagi?

Sebenarnya ketakutan orang tua pada pengaruh terorisme itu hanyalah permainan media. Seorang muslim yang tau agamanya (Islam), seharusnya malah jauh dari kata radikal. Seharusnya orang tua lebih takut pada pengaruh budaya barat yang banyak mengajarkan tentang SEX BEBAS, ALKOHOLIC, HEDONISME, DRUGS daripada isu terorisme. Orang tua juga seharusnya was-was pada pengaruh Se-Pi-Lis yang tidak menghiraukan nilai agama lagi. Isu terorisme hanyalah “isapan jempol” hasil settingan “Paman Sam”, (Osama bin Laden ialah agen CIA bernama Tim Osman, Bom Boston dikerjakan tim rahasia bernama “The Craft”, dll.) akhirnya ROHIS-lah yang jadi sasarannya.

Padahal ROHIS ialah “Jalan Keluar” bagi orang tua untuk anak-anak mereka. Bahkan saya bisa dengan lantang berbicara bahwa, “JIKA BUKAN KARENA ROHIS, SAYA TAKKAN JADI SEPERTI INI. SAYA MUNGKIN AKAN MENJADI PEMUDA YANG MALAS, TAK AKTIF, INDIVIDUALIS, HEDONIS, PEROKOK BERAT, PLAYBOY CAP KECAP, DAN HAL-HAL BURUK LAINNYA”. Karena dalam Rohis saya belajar tentang bagaimana meng-upgrade diri saya lewat ibadah terlebih dahulu, lalu fisik dan mental. Insya Allah pemuda-pemuda yang pernah tersentuh oleh ROHIS ialah pemuda yang selamat dari ROKOK, NARKOBA, MINUMAN KERAS, SEX BEBAS, PEMBOROSAN, dan tentunya hal buruk lainnya.

Insya Allah, jika para orang tua mempercayakan anak-anaknya pada eskul ROHIS di sekolahnya (tentunya dengan pengawasan terus menerus), anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi generasi yang Rabbani. Bagi yang anak-anaknya telah beranjak dewasa (kuliah), ada lembaga yang mirip dengan ROHIS semasa sekolah, ialah ROHIS KAMPUS atau sekarang lebih dikenal sebagai LEMBAGA DAKWAH KAMPUS (LDK).

Jadi berilah bekal yang cukup bagi anak anda, makanan, semangat, apresiasi, motivasi, finansial, lalu terbangkanlah mereka ke eskul-eskul ROHIS terdekat, salam KONTRIBUTIF!

best regards,

sangterasing

image source:

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/09/1347704596961333897.jp

https://si0.twimg.com/profile_images/2710749940/0b04e16fbbef1aada0f8cda425c68b00.png

http://islampos.com/wp-content/uploads/2012/10/delik-rohis-di-bundaran-hi.jpg

source:

http://whatreallyhappened.com/WRHARTICLES/binladen_cia.html

http://northerntruthseeker.blogspot.com/2013/04/boston-marathon-false-flag-attack-proof.html

Saat Solidaritas tak Mengenal Batas Geografis | Aksi Solidaritas untuk rakyat Palestina (Gaza)

18 November 2012 menjadi saksi bagaimana masyarakat Indonesia memberikan dukungan moralnya kepada masyarakat Gaza, terbutki sekitar lebih dari 1.000 orang hadir dalam aksi Solidaritas umat Muslim Indonesia untuk Gaza – Palestina.
Berbagai elemen ikut tumpah-ruah di sepanjang Bundaran HI hingga Kedubes Amerika, dari LSM, Organisasi Mahasiswa, Lembaga Dakwah Kampus, Siswa/i Rohis SMA, dan berbagai organisasi lainnya.

Suasana bertambah khidmat lewat hujan yang mulai turun rintik-rintik. Namun, sesaat setelah seorang ustadzah naik panggung untuk berorasi, hujan turun makin lebat tanda berkah Allah yang melimpah ruah kala itu. Langit pun ibarat menangisi keadaan saudara muslim/ah kita di Gaza. Walau begitu, para massa aksi tidak gentar minggir, dari Bapak-bapak, Ibu-ibu, tua dan muda, tetap berdiri dibawah hujan lebat. Air pun mulai membasahi jaket, baju, celana dan tas saya dan kawan saya, namun bukan kegentaran yang hadir tetapi kesolidan yang makin menjadi. Demi saudara muslim Gaza dibelahan Bumi lain.

Aksi solidaritas ditutup dengan do’a bersama, sang pemimpin do’a denga lirih memanjatkan do’anya kepada Gaza dan umat muslim dunia. Saat itu hujan masih turun lebat, menambah kesedihan para massa aksi dalam mengamini do’a.

Saya dan kawan-kawan pun kembali ke parkiran dengan menyusuri Jl. Sudirman dengan rasa ukhuwah tinggi kepada masyarakat Gaza – Palestina.

best regards,

sangterasing

image source: personal documentation